KABARBURSA.COM - Harga emas dunia terus merayap naik di awal pekan ini, seiring meningkatnya kecemasan pasar terhadap arah kebijakan suku bunga global dan kekhawatiran geopolitik yang belum mereda.
Tiga lembaga rujukan utama mencatat harga emas berada di atas level USD 3.300 per troy ounce, memperkuat sinyal bahwa logam mulia ini tetap menjadi tempat berlindung yang dicari investor.
Berdasarkan data London Bullion Market Association (LBMA) menetapkan harga emas di kisaran USD 3.332,15 per troy ounce dalam sesi penutupan sore (PM Fixing). Angka ini mencerminkan sentimen positif terhadap aset lindung nilai di tengah volatilitas pasar saham global.
Sementara itu, dari pasar berjangka Amerika Serikat, COMEX mencatat harga emas di level USD 3.337,40 per troy ounce. Pergerakan ini sejalan dengan ekspektasi investor yang mulai mengantisipasi potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed pada kuartal mendatang.
Di sisi lain, Kitco, penyedia harga spot emas real-time yang banyak digunakan pelaku pasar ritel dan institusi, melaporkan harga spot emas mencapai USD 3.348,50 per troy ounce.
Ini menjadi harga tertinggi di antara tiga rujukan utama tersebut, mengindikasikan adanya tekanan beli dari pasar Asia dan Timur Tengah pada perdagangan Senin pagi waktu setempat.
Kenaikan harga emas ini bukan hanya didorong faktor teknikal, tapi juga mencerminkan keresahan yang lebih luas terhadap dinamika ekonomi global.
Ketika inflasi belum sepenuhnya jinak dan risiko geopolitik seperti konflik Laut Merah atau ketegangan di Timur Tengah belum mereda, investor cenderung menumpuk posisi di emas sebagai bentuk perlindungan nilai.
Melansir dari Dailyexelsior, Wakil Presiden EBG Commodity & Currency Research di JM Financial Services Ltd, Pranav Mer mengatakan, harga emas mungkin mengalami volatilitas tinggi dalam pekan ini.
Menurutnya, volatilitas ini disebabkan oleh perhatian investor terhadap tenggat waktu tarif pada 9 Juli dan sinyal kebijakan dari bank sentral utama, termasuk Federal Reserve AS.
"Fokus ke depan akan tertuju pada pemotongan suku bunga oleh bank sentral utama, terutama Federal Reserve AS, hasil negosiasi perdagangan antara AS dan mitra dagangnya, serta data ekonomi global yang masuk, yang dapat memengaruhi harga emas dalam waktu dekat,” ujar Pranav.
Sementara itu, Kepala Analis Logam Mulia HSBC James Steele mengatakan, momentum kenaikan harga emas mulai melemah dan kemungkinan akan mengalami koreksi dalam.
"Kami memperkirakan rentang perdagangan yang luas dan volatil sebesar USD 3.100 hingga USD 3.600 per ons untuk sisa tahun ini, dengan harga akhir tahun 2025 di USD 3.175 per ons," kata James.
Harga Emas Sempat Menguat
Seperti diberitakan sebelumnya, harga emas dunia kembali menguat pada Jumat malam, 5 Juli 2025, waktu Indonesia Barat. Kenaikan ini menempatkan logam mulia tersebut dalam jalur penguatan mingguan, didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya arus dana ke instrumen lindung nilai.
Mengutip laporan Reuters dari Jakarta, Sabtu, harga emas di pasar spot tercatat naik 0,3 persen ke level USD 3.336,39 per ons atau sekitar Rp54,1 juta, berdasarkan data pada pukul 12:11 GMT.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS mengalami kenaikan tipis 0,1 persen menjadi USD 3.346,60 per ons, setara Rp54,3 juta. Jika dilihat dalam skala mingguan, emas telah mencatatkan penguatan sekitar 1,9 persen.
Di sisi lain, indeks dolar AS (.DXY) terpantau melemah 0,2 persen dan mencatat penurunan selama dua pekan berturut-turut. Situasi ini memberikan keuntungan tersendiri bagi harga emas, sebab pelemahan dolar membuat logam mulia tersebut lebih terjangkau bagi investor dengan mata uang selain dolar.
Analis senior dari ActivTrades, Ricardo Evangelista, menjelaskan bahwa pasar saat ini tengah diselimuti kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal AS, terutama setelah disahkannya kebijakan pemotongan pajak oleh Presiden Donald Trump. Menurutnya, ketidakpastian yang mengiringi tenggat pemberlakuan tarif pada 9 Juli semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset perlindungan.
“Pasar tengah diliputi kekhawatiran atas posisi fiskal AS pasca-pengesahan paket pemotongan pajak Trump. Ditambah ketidakpastian yang menyelimuti tenggat tarif 9 Juli, permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas kembali menguat,” ujar Ricardo Evangelista.
Dengan waktu pengumuman kebijakan tarif yang semakin dekat, pelaku pasar tampaknya mulai mempertebal posisi di instrumen safe haven. Emas pun kembali mengambil peran strategis sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.(*)