Logo
>

Sektor Konstruksi Meningkat Terdongkrak IKN, Analis: Perbaiki Hal ini

Ditulis oleh Yunia Rusmalina
Sektor Konstruksi Meningkat Terdongkrak IKN, Analis: Perbaiki Hal ini

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Kepala Riset Ritel Sinarmas Sekuritas, Ike Widiawati, menjelaskan bahwa peluang emiten di sektor konstruksi semakin meningkat seiring dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, Ike juga menekankan bahwa perusahaan konstruksi perlu memperbaiki kinerja keuangan mereka, terutama terkait dengan beban hutang yang cukup besar.

    Ike menyatakan bahwa meskipun proyek IKN memberikan peluang besar bagi emiten konstruksi, kondisi fundamental mereka, khususnya dalam hal hutang, perlu mendapat perhatian serius.

    "Perusahaan konstruksi memiliki tantangan utama, yaitu hutang. Dengan banyaknya proyek yang ada, kita semua berharap hutang-hutang ini dapat diselesaikan," ujar Ike dalam acara Monthly Market Outlook pada Kamis, 22 Agustus 2024.

    Ike menjelaskan lebih lanjut bahwa beberapa emiten di sektor konstruksi memang memiliki beban hutang yang besar. Namun, mereka telah menyiapkan dana untuk melunasi hutang-hutang tersebut. Contohnya, WIKA telah menyiapkan dana untuk pelunasan Obligasi Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap I Tahun 2021 Seri A senilai Rp571 miliar dan sukuk dengan nilai pokok sebesar Rp325,5 miliar, yang keduanya jatuh tempo pada 8 September 2024.

    Selain itu, WSKT memiliki Obligasi Berkelanjutan III Tahap IV Seri B dengan nilai pokok Rp1,36 triliun yang jatuh tempo pada 16 Mei 2024 dan dinyatakan gagal bayar. Sementara itu, ADHI memiliki dua surat utang dengan total nilai Rp947 miliar. Obligasi Berkelanjutan II Adhi Tahap II 2019 Seri B senilai Rp473,5 miliar telah dilunasi pada 25 Juni 2024, dan Obligasi Berkelanjutan III Adhi Tahap II 2021 Seri B senilai Rp473,5 miliar akan jatuh tempo pada 24 Agustus 2024.

    Untuk PT PP (Persero) Tbk, mereka telah melunasi Obligasi Berkelanjutan III Tahap I Tahun 2021-Seri A senilai Rp850 miliar yang jatuh tempo pada 2 Juli 2024, serta memiliki Obligasi Berkelanjutan II Tahap III Tahun 2021 Seri B senilai Rp164 miliar yang jatuh tempo pada 12 September 2024. Selain itu, Obligasi Berkelanjutan II Tahap II Tahun 2019 Seri B dengan nilai pokok Rp250 miliar akan jatuh tempo pada 27 November 2024.

    Ike juga menyoroti bahwa emiten BUMN Karya masih menghadapi masalah besar terkait hutang. Namun, posisi hutang Wika Karya mulai menunjukkan perbaikan dan prospek positif, terutama dengan banyaknya kontrak proyek dari IKN yang mereka dapatkan.

    "Selain itu, ada juga rencana merger BUMN yang bisa memberikan dampak positif bagi emiten ini," tambahnya.

    Informasi mengenai merger BUMN Karya menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan konstruksi milik negara akan digabungkan menjadi tiga klaster untuk fokus pada berbagai jenis proyek infrastruktur:

    1. Klaster 1: Gabungan antara PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero). Klaster ini akan fokus pada pembangunan infrastruktur air, rel kereta api, dan proyek-proyek serupa.
    2. Klaster 2: Gabungan antara PT Hutama Karya (Persero) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Klaster ini akan mengkhususkan diri pada pembangunan jalan tol, jalan non-tol, serta infrastruktur institusional.
    3. Klaster 3: Gabungan antara PT PP (Persero) Tbk (PTPP) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Klaster ini akan menitikberatkan pada pembangunan gedung, sektor energi, dan industri.

    Ike Widiawati, Kepala Riset Ritel Sinarmas Sekuritas, menambahkan bahwa pembangunan IKN memberikan dampak positif terhadap kenaikan harga saham perusahaan-perusahaan konstruksi. Kenaikan ini diperkirakan bisa berlanjut jika pemerintah tetap melanjutkan proyek IKN sesuai rencana awal. Namun, jika ada perubahan kebijakan, tren kenaikan ini mungkin terhenti.

    Ike juga mencatat bahwa investor utama di proyek IKN masih didominasi oleh investor dalam negeri, sementara investor asing cenderung menunggu hingga ada kepastian lebih lanjut mengenai progres proyek, terutama setelah 50 persen infrastruktur selesai. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa proyek ini layak untuk investasi, dengan tingkat kegagalan yang sangat rendah.

    Dari segi kinerja keuangan, Ike mencatat bahwa WIKA masih menghadapi tantangan. Pada kuartal I-2024, WIKA mencatat pendapatan bersih sebesar Rp3,53 triliun, turun 18,75 persen secara tahunan (YoY). Rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk WIKA mencapai Rp1,13 triliun, meningkat dari Rp521,25 miliar pada Maret 2023.

    Sementara itu, ADHI membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp16,729 miliar pada kuartal I-2024, turun 43,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023. Namun, laba bersih ADHI tumbuh 20,2 persen secara tahunan menjadi Rp10,153 miliar pada akhir Maret 2024. Laba non-pengendali ADHI turun 69,04 persen secara tahunan menjadi Rp6,575 miliar, sementara laba per saham dasar merosot 37 persen secara tahunan ke level Rp1,21 per lembar.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunia Rusmalina

    Vestibulum sagittis feugiat mauris, in fringilla diam eleifend nec. Vivamus luctus erat elit, at facilisis purus dictum nec. Nulla non nulla eget erat iaculis pretium. Curabitur nec rutrum felis, eget auctor erat. In pulvinar tortor finibus magna consequat, id ornare arcu tincidunt. Proin interdum augue vitae nibh ornare, molestie dignissim est sagittis. Donec ullamcorper ipsum et congue luctus. Etiam malesuada eleifend ullamcorper. Sed ac nulla magna. Sed leo nisl, fermentum id augue non, accumsan rhoncus arcu. Sed scelerisque odio ut lacus sodales varius sit amet sit amet nibh. Nunc iaculis mattis fringilla. Donec in efficitur mauris, a congue felis.