Logo
>

Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Terbang, Rupiah Tertekan

Investor global cenderung menghindari aset berisiko, sementara lonjakan harga energi menambah lapisan kekhawatiran baru

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Terbang, Rupiah Tertekan
Ilustrasi konflik Israel–AS vs Iran yang memicu ketidakpastian pasar global, lonjakan harga energi, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah Indonesia. (Ilustrator : Andrew Bernard)

KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah kembali tergelincir. Pada Rabu pagi 4 Maret 2026, mata uang Garuda terperosok 49 poin atau 0,29 persen ke level Rp16.921 per dolar AS, terseret arus sentimen risk off yang menguat seiring eskalasi konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel serta reli harga minyak global.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.14 WIB, rupiah bergerak lebih lemah dibandingkan penutupan Selasa sore 3 Maret 2026 di Rp16.872 per dolar AS. Tekanan datang bertubi-tubi. Investor global cenderung menghindari aset berisiko, sementara lonjakan harga energi menambah lapisan kekhawatiran baru terhadap stabilitas makroekonomi.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah belum akan mereda dalam waktu dekat. Dinamika perang tiga pihak tersebut menciptakan atmosfer ketidakpastian yang pekat. Kenaikan harga minyak mentah, katanya, berpotensi menjadi katalis negatif tambahan bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Ia memproyeksikan rentang pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS.

Sumber kegelisahan pasar tak berhenti di situ. Keputusan Iran menutup Selat Hormuz memantik alarm keras di pasar energi internasional. Jalur vital distribusi minyak dunia itu menjadi episentrum baru ketegangan, terlebih setelah kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam eskalasi konflik beberapa hari terakhir.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, kepada CNBC Indonesia, memproyeksikan harga minyak mentah dunia berpotensi menembus kisaran USD100 hingga USD120 per barel. Sebuah lonjakan yang bukan sekadar fluktuasi, melainkan ancaman sistemik bagi negara-negara pengimpor energi.

Bagi Indonesia, implikasinya tak sederhana. Status sebagai net importir minyak membuat setiap kenaikan harga menjadi beban fiskal yang nyata. Dalam simulasi APBN 2026, setiap tambahan USD1 per barel di atas asumsi dasar anggaran diperkirakan meningkatkan belanja negara sekitar Rp10,3 triliun. Angka itu akumulatif, progresif, dan berpotensi membengkak cepat.

Jika harga minyak benar-benar melesat ke rentang USD100–120 per barel, tambahan beban belanja negara pada 2026 bisa menanjak drastis. Dampaknya bukan hanya pada subsidi bahan bakar minyak, tetapi juga kompensasi kepada Pertamina serta subsidi listrik yang ikut terdongkrak. APBN menghadapi tekanan berlapis. Rupiah pun berada di garis depan guncangan tersebut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.