KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 13 Januari, di zona hijau dengan penguatan 63 poin atau 0,72 persen ke level 8.948. Kenaikan ini terjadi dengan likuiditas yang tetap terjaga, yang tercermin dari volume transaksi mencapai 620 juta lot saham dengan nilai transaksi sebesar Rp32,87 triliun.
Penguatan IHSG kali ini didorong oleh pergerakan positif sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya di kelompok LQ45. Saham-saham seperti MBMA, PGEO, MDKA, ADRO, JPFA, ASII, hingga AADI menjadi motor penggerak indeks.
Di sisi lain, tekanan masih terlihat pada sejumlah saham lain seperti BUMI, EMTK, EXCL, SCMA, BRPT, MEDC, dan TOWR, yang bergerak di zona merah.
Dari sisi sektoral, sektor basic industry menjadi yang paling moncer dengan kenaikan 2,67 persen. Reli sektor ini ditopang oleh penguatan saham-saham seperti JPFA yang melonjak 5,38 persen, TPIA naik 3,08 persen, INKP menguat 3,02 persen, TKIM naik 1,88 persen, AMRT menguat 1,80 persen, serta CPIN yang naik 0,89 persen.
Sebaliknya, sektor barang konsumen primer justru menjadi yang terlemah dengan koreksi 1,85 persen, seiring pelemahan saham-saham seperti MAPI yang turun 0,43 persen dan ERAA yang terkoreksi 0,50 persen.
Penguatan IHSG sejalan dengan mayoritas pergerakan bursa Asia yang bergerak positif. Lonjakan paling mencolok datang dari Jepang, di mana Nikkei 225 melesat 3,10 persen ke level 53.549 dan Topix menguat 2,41 persen ke 3.598.
Reli ini dipicu oleh optimisme investor terhadap tema kecerdasan buatan (AI), pelemahan yen ke level terendah historis, serta spekulasi stimulus fiskal yang lebih agresif.
Pasar juga merespons laporan bahwa Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, berencana menggelar pemilihan umum lebih awal. Langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat mayoritas koalisi, yang pada akhirnya membuka ruang bagi kebijakan ekonomi yang lebih ekspansif.
Kospi Cs Menguat
Di kawasan lain, bursa Korea Selatan turut menguat, dengan Kospi naik 1,47 persen ke 4.692. Hang Seng Hong Kong menguat 0,90 persen ke 26.848, sementara Taiex Taiwan naik 0,46 persen ke 30.707 dan ASX200 Australia menguat 0,56 persen ke 8.808.
Sebaliknya, pasar saham China masih berada di bawah tekanan, dengan Shanghai Composite turun 0,64 persen ke 4.138, Shenzhen Component melemah 1,37 persen ke 14.169, dan CSI300 terkoreksi 0,60 persen ke 4.761.
Secara global, sentimen pasar saham masih ditopang oleh optimisme terhadap prospek ekonomi 2026. Analis Citi memperkirakan ekuitas global masih berpeluang menguat hingga 10 persen tahun ini, dengan MSCI AC World diproyeksikan naik hingga akhir tahun.
Meski demikian, mereka mengingatkan bahwa valuasi yang sudah tinggi menyisakan ruang kesalahan yang sempit jika emiten gagal memenuhi ekspektasi laba. Namun, skenario soft landing ekonomi, momentum revisi laba yang solid, serta dorongan dari tema AI dinilai cukup untuk menopang reli.
Di sisi lain, pasar juga tengah mencermati dimulainya musim rilis laporan keuangan kuartal IV, yang pekan ini dibuka oleh bank-bank besar Amerika Serikat seperti JPMorgan Chase, Bank of New York Mellon, Citigroup, dan Bank of America.
Hasil kinerja emiten-emiten ini akan menjadi petunjuk penting mengenai arah pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Sentimen lain yang tak kalah penting adalah isu independensi Federal Reserve, menyusul investigasi kriminal Departemen Kehakiman AS terhadap Ketua The Fed Jerome Powell. Kekhawatiran muncul bahwa tekanan politik dapat memaksa bank sentral memangkas suku bunga terlalu dalam dan terlalu lama, yang pada akhirnya berisiko memicu lonjakan inflasi.
Harga Emas Sempat Tembus USD4.600, Rupiah Masih Terkoreksi
Ketidakpastian tersebut justru menguntungkan logam mulia. Harga emas menembus level USD4.600 per ons untuk pertama kalinya sebelum stabil di kisaran USD4.596. Ini menunjukkan bahwa sebagian investor mulai membangun lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan moneter global.
Di pasar valuta Asia, pergerakan cenderung beragam. Yen Jepang melemah 0,53 persen ke level 158,98 per dolar AS, dolar Singapura turun 0,14 persen, dan dolar Australia melemah 0,16 persen. Rupiah juga terkoreksi tipis 0,13 persen ke 16.877 per dolar AS.
Sementara itu, ringgit Malaysia justru menguat 0,19 persen, berlawanan dengan baht Thailand yang melemah 0,84 persen.
Secara keseluruhan, penguatan IHSG hari ini mencerminkan bahwa sentimen risk-on global masih cukup terjaga, meski dibayangi berbagai isu struktural, mulai dari valuasi yang tinggi, ketidakpastian kebijakan moneter, hingga dinamika geopolitik.
Pasar terlihat selektif, dengan rotasi sektor dan minat terhadap saham-saham tertentu yang dinilai memiliki daya tahan terhadap perubahan lanskap ekonomi global.(*)