KABARBURSA.COM - Tekanan yang dialami pasar saham Indonesia belakangan dinilai lebih banyak dipicu faktor psikologis investor ketimbang pelemahan fundamental ekonomi. Kondisi tersebut membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki ruang pemulihan di tengah sentimen global yang relatif kondusif.
Founder Kawancuan Indonesia, Muhammad Fatah Al Falah, menyebut bahwa persepsi pasar sering kali lebih cepat bereaksi dibandingkan data ekonomi.
“Kalau dilihat globalnya, investor itu sebenarnya masih greedy, bukan fear. Jadi walaupun ada isu MSCI dan lain-lain, itu lebih ke teknikal, bukan fundamental Indonesia,” kata Fatah.
Ia menjelaskan, secara makro ekonomi, Indonesia masih mencatat pertumbuhan yang positif. Namun, berita dan isu global kerap mendorong investor melakukan aksi jual jangka pendek karena meningkatnya kekhawatiran risiko.
Menurut Fatah, penyesuaian indeks global seperti MSCI sering kali memicu reaksi pasar yang berlebihan di level domestik.
“MSCI itu teknikal. Bukan karena ekonomi kita memburuk, tapi karena mekanisme indeks. Sayangnya, pelaku pasar sering menganggapnya sebagai sinyal krisis,” ujarnya.
Akibatnya, IHSG mengalami tekanan bukan karena kinerja emiten melemah, melainkan karena pergeseran portofolio investor institusi secara otomatis.
Fatah menilai minat risiko investor global tetap terjaga karena likuiditas internasional masih relatif longgar. Kondisi ini membuat pasar saham belum masuk fase defensif penuh.
“Selama likuiditas masih mengalir, market itu cenderung cari peluang, bukan sembunyi. Jadi koreksi itu lebih ke adjustment, bukan pembalikan tren,” jelasnya.
Ia menambahkan, fase tersebut biasanya memicu investor mulai memilah saham dengan narasi yang kuat, bukan sekadar mengikuti indeks.
Lebih lanjut, Fatah mengatakan bahwa pola pergerakan IHSG ke depan tidak lagi ditopang euforia massal, melainkan selektivitas.
“Sekarang bukan zamannya semua saham naik. Market akan pilih cerita yang relevan dengan kondisi global, seperti emas, logam industri, dan energi,” katanya.
Menurutnya, investor akan fokus pada emiten yang memiliki keterkaitan langsung dengan tren dunia, seperti transisi energi dan kebutuhan logam strategis.
Fatah mengingatkan bahwa volatilitas merupakan karakter alami pasar di tengah ketidakpastian global.
“Kalau market tenang terus, justru bahaya. Volatilitas itu sehat, karena di situ terjadi redistribusi kepemilikan dari panik ke sabar,” tuturnya.
Ia menilai, tekanan IHSG seharusnya tidak selalu dimaknai sebagai sinyal keluar pasar, melainkan momentum bagi investor yang memahami arah besar ekonomi global.
Menutup pandangannya, Fatah optimistis bahwa IHSG masih memiliki cerita jangka menengah, selama pelaku pasar mampu membaca sentimen secara proporsional.
“Selama investor bisa bedakan mana isu psikologis dan mana fundamental, IHSG itu masih menarik. Yang penting bukan ikut takut, tapi ikut alurnya,” pungkasnya.(*/NAD)