KABARBURSA.COM — Harga batu bara dunia mulai terkoreksi pada Kamis, 12 Maret 2026, setelah sempat melonjak tajam pada awal pekan. Penurunan harga terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Data Trading Economics menunjukkan harga batu bara kini bergerak di kisaran USD130 per ton atau sekitar Rp2,2 juta per ton setelah sebelumnya sempat menembus USD150 per ton atau sekitar Rp2,5 juta per ton pada awal pekan ini.
Koreksi harga tersebut terjadi setelah harga minyak dunia ikut turun dari level tinggi. Harga minyak sebelumnya sempat melonjak di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Namun belakangan harga minyak kembali turun hingga berada di bawah USD90 per barel atau sekitar Rp1,5 juta per barel setelah Amerika Serikat dan sejumlah negara ekonomi besar mengambil langkah untuk menekan biaya energi.
Meski demikian, situasi di kawasan Timur Tengah masih jauh dari stabil. Konflik bersenjata di kawasan tersebut terus berlangsung tanpa tanda-tanda akan segera mereda. Selain itu jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz masih berada dalam kondisi tertutup secara efektif. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.
Di sisi lain gangguan juga terjadi pada sektor gas alam cair. Salah satu fasilitas ekspor LNG terbesar di Qatar dilaporkan menghentikan pengiriman selama lima hari berturut-turut. Gangguan tersebut menjadi yang terlama sejak 2008 dan meningkatkan risiko kenaikan harga bahan bakar di pasar global.
“Guncangan pasokan pada minyak dan gas biasanya mendorong peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif di sektor pembangkit listrik,” demikian keterangan Trading Economics.
Sejumlah negara Asia yang selama ini bergantung pada pasokan LNG dari Qatar berpotensi menghadapi tekanan pasokan energi. Jika gangguan tersebut berlangsung lebih lama, negara-negara di kawasan ini kemungkinan akan meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara.
“Dengan banyaknya ekonomi Asia yang bergantung pada LNG Qatar, kawasan ini dapat terpaksa meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara jika gangguan berlanjut,” tulis Trading Economics.
Selain itu batu bara juga semakin dipandang memiliki peran strategis bagi China. Negara tersebut memanfaatkan batu bara tidak hanya sebagai cadangan energi tetapi juga sebagai bahan baku penting bagi industri kimia.
“Batu bara juga semakin memiliki arti strategis bagi China baik sebagai penyangga energi maupun sebagai bahan baku utama bagi industri kimia,” tulis Trading Economics.
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.