Logo
>

Stok AS Turun, Harga Minyak Naik ke USD67 per Barel

Harga minyak naik didorong ketegangan di Selat Hormuz dan penurunan stok AS hingga 11 juta barel, menambah kekhawatiran soal pasokan global.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Stok AS Turun, Harga Minyak Naik ke USD67 per Barel
Ilustrasi harga minyak dunia. Foto: dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa, 4 Februari 2026, didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta data penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat yang lebih besar dari perkiraan pasar.

    Mengacu laporan pasar energi global, harga minyak jenis Brent ditutup di kisaran USD 67,98 per barel atau naik sekitar 1,0 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,1 persen ke level USD 63,90 per barel.

    Kenaikan ini menandai rebound harga setelah pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam pergerakan harga minyak.

    Sentimen utama datang dari meningkatnya kekhawatiran potensi gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah insiden yang melibatkan kapal Iran dan militer Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz.

    Jalur ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling strategis di dunia, sehingga setiap eskalasi konflik memicu kekhawatiran gangguan suplai global.

    Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai risiko gangguan di jalur tersebut dapat langsung berdampak pada harga minyak global. Ia mengatakan,

    “Jika apa pun mengganggu aliran melalui Selat Hormuz, premi risiko geopolitik itu dengan mudah dapat mendorong harga naik,” kata Phil dilansir dari Reuters, Rabu, 4 Februari 2026.

    Selain faktor geopolitik, pasar juga mendapat dorongan dari data penurunan stok minyak mentah Amerika Serikat yang dilaporkan turun lebih dari 11 juta barel.

    Penurunan tajam ini memperkuat pandangan bahwa pasokan pasar global mulai mengetat, sementara permintaan energi tetap stabil di sejumlah negara konsumen utama.

    Sementara itu, analis UBS Giovanni Staunovo menambahkan bahwa kombinasi faktor nilai tukar dan kondisi pasokan turut menopang harga minyak.

    “Dolar AS yang lemah dan tanda-tanda pasokan yang lebih ketat membantu menopang harga dan menjaga mereka dekat dengan level tertinggi baru-baru ini,” ujarnya.

    Pasar juga masih mencermati perkembangan produksi di sejumlah wilayah produsen utama, termasuk Kazakhstan, meskipun beberapa gangguan produksi sebelumnya mulai mereda.

    Di sisi lain, optimisme terhadap permintaan energi global ikut muncul setelah adanya perkembangan kerja sama perdagangan antara Amerika Serikat dan India.

    Dengan kombinasi risiko geopolitik, pengetatan pasokan, serta sentimen permintaan global yang membaik, pelaku pasar menilai harga minyak masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, terutama jika ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Citra Dara Vresti Trisna

    Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.