Logo
>

Tekanan Inflasi dan Dolar AS Seret Harga Emas

Lonjakan harga energi sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral global akan mempertahankan suku bunga

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Tekanan Inflasi dan Dolar AS Seret Harga Emas
Ilustrasi Emas Dalam Bentuk Perhiasan. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Harga emas mengalami koreksi tajam pada perdagangan Kamis, merosot lebih dari 4 persen dan memperpanjang tren penurunan menjadi tujuh hari beruntun. Tekanan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu konflik di Timur Tengah, yang mendorong lonjakan harga energi sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral global akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi.

Emas spot jatuh 4,3 persen menjadi USD4.612,21 per ons pada pukul 24.31 WIB—level terendah sejak awal Februari. Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak April ditutup merosot lebih dalam, yakni 5,9 persen ke posisi USD4.605,70, berdasarkan laporan Reuters dari Bengaluru, Kamis (19/3) waktu setempat atau Jumat (20/3) dini hari WIB.

Analis TD Securities, Daniel Ghali, mengungkapkan bahwa logam mulia ini sebelumnya menjadi pilihan utama investor institusi, terutama sebagai instrumen lindung nilai terhadap depresiasi mata uang dalam setahun terakhir. Namun, ia menilai fondasi yang menopang tren tersebut mulai mengalami erosi.

Dalam jangka pendek, lanjutnya, harga emas masih berpotensi melanjutkan penurunan, meskipun secara struktural tetap berada dalam tren bullish jangka panjang.

Secara historis, emas dikenal sebagai aset safe haven yang mampu melindungi nilai dari inflasi dan gejolak geopolitik. Namun, karakteristiknya yang tidak menghasilkan imbal hasil membuat daya tariknya meredup ketika suku bunga berada di level tinggi, karena investor cenderung beralih ke instrumen berbunga.

Sepanjang pekan ini, mayoritas bank sentral di negara maju memilih mempertahankan suku bunga. Meski demikian, mereka menegaskan kesiapan untuk bertindak agresif guna meredam inflasi apabila tekanan harga energi terus meningkat akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Lonjakan harga energi menjadi katalis utama kekhawatiran tersebut. Harga minyak Brent bahkan sempat melampaui USD110 per barel setelah Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah, sebagai respons atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars.

Di ranah geopolitik, tensi juga meningkat. Sejumlah pejabat Amerika mengungkap bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan pengiriman ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah guna memperkuat operasi militer, seiring konflik dengan Iran yang berpotensi memasuki fase eskalasi baru.

Analis SP Angel menilai tekanan pada harga emas turut dipicu aksi ambil untung serta penguatan dolar AS. Setelah mencatat reli impresif sepanjang 2025, investor kini mulai merealisasikan keuntungan. Sebagian dana dialihkan untuk memenuhi kebutuhan margin, sementara sebagian lainnya berpindah ke sektor energi yang dinilai lebih prospektif di tengah volatilitas pasar.

Logam mulia lainnya tak luput dari tekanan. Harga perak spot anjlok 5,3 persen menjadi USD71,39 per ons. Platinum turun 3,7 persen ke level USD1.949,20, sedangkan paladium melemah 2,4 persen menjadi USD1.440,29.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.