KABARBURSA.COM - Performa PT United Tractors Tbk (IDX: UNTR) mulai tampil solid di tengah tantangan margin yang cukup tinggi. Saham pun diprediksi punya potensi untuk naik.
Jika melihat catatan kinerja keuangan United Tractors di sepanjang kuartal pertama 2025, sudah cukup kokoh. Namun, ada tekanan margin di beberapa lini usaha. Beruntung, emiten alat berat dan pertambangan ini tetap mampu menjaga pertumbuhan pendapatannya, terutama di sektor mesin konstruksi dan tambang emas.
Sinyal ini memperkuat optimisme pasar bahwa United Tractors masih memiliki ruang bertumbuh dalam jangka menengah.
Catatan solid di sektor kinerja keuangan didukung oleh beberapa hal. Antara lain, laporan kinerja segmen alat berat, yang menjadi andalan utama UNTR, berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp12,6 triliun. Angka tersebut melonjak 50,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari segmen alat berat ini, penjualan Komatsu naik signifikan, menjadi 1.385 unit. Laba sebelum pajat atau PBT di lini ini juga tercatat tumbuh sebesar 46,6 persen year on year (YoY), ke level Rp1,25 triliun. Dan, margin ikut membaik ke angka 8,4 persen.
Kinerja ini menjadi bukti bahwa permintaan alat berat masih kuat, terutama untuk mendukung proyek infrastruktur dan pertambangan yang terus berjalan.
Beralih ke segmen jasa kontraktor pertambangan. Berbeda dengan segmen alat berat, yang satu ini justru mencatatkan pelemahan. Pendapatannya turun 18,3 persen secara tahunan, ke Rp10,9 triliun. Untuk PBT-nya juga terkoreksi 32,7 persen ke Rp1,88 triliun. Penurunan ini cukup mencolok dan mencerminkan adanya tekanan dari sisi volume pekerjaan serta efisiensi yang belum optimal di awal tahun.
Segmen selanjutnya adalah tambang batu bara. Performanya mengikuti segmen jasa kontraktor pertambangan, terkontraksi. Akibatnya, pendapatan dari lini ini turun 16,1 persen menjadi Rp7 triliun, seiring dengan penurunan produksi sebesar 13,5 persen ke 32 juta ton.
Walau begitu, masih ada titik cerah dari sisi kuartalan. Laba sebelum pajak tercatat berhasil bangkit sebesar 203 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, ke angka Rp767 miliar. Ini menjadi sebuah sinyal bahwa pemulihan bisa saja berlanjut pada kuartal berikutnya.
Kalau tambang batu bara terkoreksi, tidak demikian dengan tambang emas dan mineral lainnya. Dua sektor ini justru menggeliat, pendapatannya melonjak 58,7 persen secara tahunan, ke Rp2,9 triliun.
Namun, hal itu tidak dibarengi dengan margin yang nyatanya lebih rendah dan membuat PBT di segmen ini turun separunya, menjadi Rp226 miliar. Penyebabnya adalah tingginya biaya produksi dan harga jual yang fluktuatif.
Sekarang beralih ke sisi volume. Total penjualan batu bara UNTR pada kuartal ini mencapai 3,83 juta ton, turun tipis 3,4 persen secara tahunan tetapi naik 28,4 persen dibanding kuartal sebelumnya.
Penjualan emas bergerak tumbuh 16,3 persen menjadi 57 ribu ons, disusul penjualan bijih nikel yang meningkat tajam hingga 37,1 persen ke 525 ribu wet metric ton (WMT).
Pertumbuhan dua komoditas ini menandai pentingnya diversifikasi usaha UNTR di tengah pasar yang semakin menuntut adaptasi cepat.
UNTR Overweight
Dari catatan di atas, tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan saham UNTR dengan peringkat Overweight. Hal ini didasarkan pada valuasi wajar yang berada di kisaran Rp28.725 per saham, atau sekitar 26 persen di atas harga pasar saat ini.
Penilaian ini mengacu pada metode gabungan, yaitu discounted cash flow (40 persen), price to book value (30 persen) dan price to earning ratio (30 persen)
Di sini, investor diminta untuk tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang menyertai saham UNTR, mulai dari volatilitas harga komoditasnya, seperti batu bara, emas, dan nikel, sampai faktor eksternal seperti pergerakan suku bunga dan nilai tukar. Keseluruhannya mempengaruhi kinerja laba bersih perusahaan.
Namun, terlepas dari itu semua, UNTR masih dinilai sebagai salah satu saham defensif di sektor tambang dan alat berat. Kinerja keuangannya pun masih terjaga, apalagi ditopang oleh diversifikasi produk dan lini usaha yang menyasar pertumbuhan masa depan.
Pergerakan sahamnya pun masih menarik untuk diperhatikan, baik oleh investor institusi maupun ritel yang mengincar stablitas dan potensi kenaikan harga jangka menengah.
Saham Bergerak Tipis
Saham UNTR bergerak naik tipis di tengah dinamika pasar yang cenderung sideways. Pada perdagangan hari ini, UNTR ditutup di level Rp22.875, naik Rp75 atau sekitar 0,33 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sejak sesi pembukaan, saham UNTR dibuka di harga Rp22.800, lalu sempat menyentuh level tertinggi harian di Rp22.925, sebelum ditutup sedikit di bawahnya. Sementara itu, level terendah yang tercatat hari ini berada di Rp22.700.
Dengan kapitalisasi pasar yang mencapai Rp85,33 triliun, UNTR tetap menjadi salah satu emiten terbesar di sektor alat berat dan pertambangan. Namun yang paling mencolok dari emiten milik Grup Astra ini adalah dividend yield-nya yang sangat tinggi, yaitu 9,40 persen, menjadikannya favorit bagi investor yang mengejar pendapatan pasif dari dividen.
Secara valuasi, UNTR juga terlihat menarik. Rasio harga terhadap laba (P/E ratio) saat ini berada di 4,25, level yang terbilang murah jika dibandingkan dengan rata-rata sektor industri sejenis. Ini bisa menjadi pertanda bahwa saham UNTR masih undervalued dan berpotensi mengalami revaluasi, terutama jika kinerja operasionalnya terus membaik.
Meski begitu, UNTR masih memiliki jarak cukup jauh dari harga tertingginya dalam 52 minggu terakhir yang berada di Rp28.500. Saat ini saham masih berada di kisaran 20 persen di bawah level tersebut. Namun sisi positifnya, harga saat ini juga jauh di atas level terendah tahunan di Rp20.025, memberikan sinyal bahwa tren perbaikan mulai terbentuk.
Bagi sebagian investor, ini bisa menjadi fase akumulasi sebelum UNTR kembali ke tren penguatan yang lebih solid. Terlebih lagi, prospek komoditas seperti batu bara, emas, dan nikel yang menjadi pilar pendapatan perusahaan mulai menunjukkan pemulihan yang moderat. Hal ini bisa menjadi katalis penting bagi harga saham dalam jangka menengah.
Dengan potensi upside yang masih terbuka, dividen yang besar, dan valuasi yang menarik, UNTR tetap berada dalam radar investor sebagai salah satu saham blue-chip yang layak dikawal ketat di tengah volatilitas pasar saat ini.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.