KABARBURSA.COM - Di tengah dinamika pasar yang penuh gejolak, saham-saham berbasis prinsip syariah masih menyimpan potensi. Meski performa tiap emiten berbeda-beda, sebagian tetap menunjukkan kinerja positif dan mencatatkan laba meski tekanan ekonomi belum sepenuhnya mereda.
Director PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, menilai bahwa kekuatan utama dari saham syariah tetap terletak pada kualitas fundamental perusahaan yang menerbitkannya.
Ia menegaskan, meskipun ada sejumlah emiten yang kinerjanya menurun, masih banyak pula yang mencatatkan pertumbuhan yang solid.
"Terkait dengan saham-saham syariah, pada dasarnya balik lagi ke kondisi fundamental dari emiten tersebut," kata Reza saat dihubungi kabarBursa.com di Jakarta, Selasa 20 Mei 2025.
Menurutnya, sektor-sektor seperti pertambangan, komoditas, dan ritel menjadi contoh yang cukup konsisten dalam menarik perhatian investor syariah.
Namun, ia mengingatkan bahwa pergerakan harga saham tetap sangat bergantung pada sentimen pasar dan dinamika makroekonomi.
“Harapannya kondisi makroekonomi dapat membaik sehingga berimbas pada kinerja emiten-emiten syariah yang dapat bertumbuh positif,” ujar Reza.
Optimisme terhadap emiten syariah akan terus tumbuh jika para pelaku pasar melihat konsistensi dari perusahaan dalam menjaga performanya. “Bila emiten tersebut mencatatkan kinerja yang konstan dan sustain terus membaik maka investor pun cenderung tertarik dengan saham-saham tersebut,” tambahnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa menjaga kestabilan sentimen pasar merupakan tantangan tersendiri.
Ketidakhati-hatian dalam merespons isu-isu eksternal dapat memicu kepanikan, bahkan terhadap saham yang secara fundamental sehat.
Lebih lanjut, Reza menyebut bahwa arah pergerakan saham syariah tetap akan ditentukan oleh sejauh mana minat investor bisa dijaga dan didorong oleh kinerja emiten itu sendiri.
“Yang menjadi tantangan ialah menjaga sentimen yang ada,” terangnya.
Berikut prospek saham syariah yang menjadi rekomendasi;
1. PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES)
Saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) saat ini diperdagangkan di level Rp515. Berdasarkan konsensus analis, target harga rata-rata saham ini berada di Rp693, memberikan potensi kenaikan (upside) sekitar 34,56 persen. Estimasi paling optimistis mencapai Rp1.100, sedangkan proyeksi paling konservatif berada di Rp475.
Dari sisi fundamental, ACES menunjukkan pertumbuhan yang konsisten, meskipun tidak terlalu agresif.
Pendapatan perusahaan diperkirakan meningkat secara bertahap dari Rp8,583 triliun pada 2024 menjadi Rp9,936 triliun pada 2026.
Hal yang sama terlihat pada laba bersih yang naik dari Rp892 miliar (2024) menjadi Rp1,021 triliun (2026).
Namun, profitabilitas operasional tampak sedikit tertekan pada 2025, di mana laba operasi turun dari Rp1,167 triliun (2024) menjadi Rp1,093 triliun, sebelum kembali naik ke Rp1,237 triliun pada 2026.
Meskipun demikian, EPS (Earnings Per Share) tetap menunjukkan tren positif, dari 52,10 di 2024 menjadi 59,01 di 2026.
“Emiten ritel ini disepanjang 2024 mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba seiring masih adanya daya beli masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan rumah,” kata dia.
2. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) saat ini berada di level Rp2.720, sedikit di atas rata-rata target konsensus analis yang berada di Rp2.717.
Target tertinggi diproyeksikan mencapai Rp3.200, sementara target terendah ada di Rp1.900. Dengan posisi harga saat ini yang hampir menyentuh batas atas, ruang upside jangka pendek terlihat terbatas—kecuali ada katalis besar yang mendongkrak sentimen.
Namun jika melihat sisi fundamental, ANTM menunjukkan pemulihan dan pertumbuhan yang cukup signifikan, terutama pada 2025.
Pendapatan diprediksi melonjak dari Rp69,2 triliun di 2024 menjadi Rp88,96 triliun pada 2025, dan stabil di angka yang sama pada 2026.
Laba operasi juga diperkirakan meningkat tajam dari Rp2,99 triliun (2024) menjadi Rp6,4 triliun (2025), menandakan perbaikan efisiensi dan potensi kenaikan harga komoditas yang diolah ANTM.
Laba bersih diperkirakan naik dari Rp3,65 triliun di 2024 menjadi Rp5,62 triliun di 2025, sebelum stabil di Rp5,66 triliun pada 2026. EPS (Earnings Per Share) juga menunjukkan tren positif, dari 151,77 ke 229,40 dalam dua tahun ke depan.
“ANTM kinerjanya juga meningkat seiring meningkatnya penjualan dari gerai emasnya,” terangnya.
3. Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) saat ini diperdagangkan di kisaran Rp2.290. Berdasarkan konsensus analis, target harga rata-rata untuk saham ini berada di level Rp2.725.
Target tersebut memberikan ruang kenaikan (upside potential) sekitar 19% dari harga saat ini. Beberapa analis bahkan memproyeksikan target optimistis di level Rp4.500, sementara estimasi terendahnya berada di Rp1.800.
Dari sisi fundamental, ADRO diproyeksikan mengalami dinamika kinerja yang cukup signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Pada tahun 2024, pendapatan perusahaan diperkirakan sebesar Rp32.947 miliar dengan laba bersih mencapai Rp21.873 miliar.
Namun, pada tahun 2025, meskipun pendapatan meningkat menjadi Rp48.564 miliar, laba bersih justru menurun drastis ke Rp7.322 miliar. Ini menunjukkan potensi tekanan pada margin keuntungan atau adanya peningkatan beban biaya yang signifikan.
Kondisi serupa juga terlihat dari proyeksi EPS (Earnings Per Share) yang turun tajam dari 711,12 di 2024 menjadi 298,45 di 2025. Angka ini hanya sedikit membaik pada 2026, menjadi 303,93.
Sementara itu, pendapatan dan laba operasional diperkirakan terus meningkat, yang bisa mengindikasikan adanya fase investasi atau ekspansi yang menekan laba bersih dalam jangka pendek.
4. saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
Harga saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) saat ini berada di level Rp2.810, masih di bawah rata-rata target analis sebesar Rp3.262.
Bahkan, proyeksi tertinggi menyentuh Rp4.500, memberikan sinyal bahwa saham ini masih menyimpan potensi upside yang cukup menarik.
Namun, batas bawah proyeksi juga menyentuh Rp2.500, mencerminkan bahwa sentimen pasar terhadap TLKM cukup bervariasi.
Dari sisi fundamental, TLKM mencatat pertumbuhan yang konsisten, meski tidak terlalu agresif. Pendapatan diproyeksikan tumbuh dari Rp149,97 triliun di 2024 menjadi Rp158,19 triliun pada 2026. Kenaikan yang stabil ini menunjukkan kinerja operasional yang solid, meski tidak eksplosif.
Laba operasi juga meningkat secara bertahap, dari Rp42,99 triliun (2024) menjadi Rp46,06 triliun (2026). Begitu pula laba bersih, dari Rp23,65 triliun menjadi Rp25,82 triliun dalam periode yang sama.
Pertumbuhan ini memperlihatkan efisiensi dan kestabilan bisnis inti TLKM, terutama di tengah tekanan kompetisi di sektor telekomunikasi.
Dari sisi EPS (Earnings Per Share), perusahaan juga menunjukkan kenaikan dari 238,73 (2024) menjadi 259,26 (2026), yang menjadi indikator positif bagi investor jangka panjang.
Dengan valuasi harga saat ini yang masih berada di bawah target konsensus analis, serta fundamental yang terus tumbuh, TLKM layak dipertimbangkan sebagai pilihan defensif di tengah kondisi pasar yang volatil.
“ADRO & TLKM meski masih mencatatkan laba namun, cenderung turun seiring meningkatnya beban usahanya. Ke depan, kinerjanya ditentukan oleh perkembangan industri nya,” tuturnya.(*)