Logo
>

Cadangan Nikel MBMA Melonjak, Nilainya Tembus Rp1.000 Triliun?

Ore reserves naik 48 persen jadi 4,4 juta ton nikel, memperkuat pasokan untuk smelter dan membuka potensi nilai ekonomi besar dari rantai hilirisasi.

Ditulis oleh Yunila Wati
Cadangan Nikel MBMA Melonjak, Nilainya Tembus Rp1.000 Triliun?
Peningkatan cadangan bijih dan sumber daya mineral MBMA merupakan potensi pendapatan besar bagi perusahaan. (Foto: dok Merdeka Battery Minerals)

KABARBURSA.COM – Peningkatan cadangan bijih dan sumber daya mineral PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) membuka satu lapisan yang lebih dalam dari sekadar angka eksplorasi. 

Di balik lonjakan Ore Reserves hingga 578,8 juta wet metric tonnes (wmt), tersimpan satu hal yang menjadi perhatian utama pasar, yaitu kepastian pasokan bahan baku dalam skala besar untuk menopang seluruh rantai nilai hilirisasi nikel.

Cadangan tersebut setara dengan 358,2 juta dry metric tonnes dengan kadar nikel rata-rata 1,23 persen, yang menghasilkan total kandungan sekitar 4,4 juta ton nikel. 

Angka ini meningkat 48 persen secara tahunan, sekaligus menunjukkan bahwa tambahan cadangan bukan sekadar marginal, melainkan ekspansi yang cukup signifikan dalam basis produksi jangka panjang.

Di sisi lain, sumber daya mineral yang mencapai 1.549,3 juta wmt atau sekitar 958,9 juta dry tonnes dengan kandungan 11,8 juta ton nikel memperlihatkan skala potensi yang lebih luas. 

Jika cadangan mencerminkan material yang siap ditambang secara ekonomis, maka sumber daya mineral menjadi gambaran pipeline jangka panjang yang masih bisa dikonversi menjadi cadangan di masa depan.

Kombinasi antara cadangan dan sumber daya ini membentuk fondasi pasokan yang terintegrasi untuk fasilitas pengolahan MBMA, mulai dari smelter Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) hingga High Pressure Acid Leach (HPAL). 

Dalam struktur industri nikel saat ini, kepastian pasokan bijih menjadi variabel kunci, terutama ketika permintaan dari rantai kendaraan listrik terus berkembang.

Potensi Ekonomi yang Tersimpan

Jika ditarik ke potensi ekonomi, kandungan 4,4 juta ton nikel dalam cadangan memberikan gambaran nilai yang cukup besar dalam konteks harga global. Dengan asumsi harga nikel di kisaran USD16.000 hingga USD18.000 per ton—mengacu pada rentang harga rata-rata pasar dalam beberapa periode terakhir—nilai in-situ dari cadangan tersebut berada di kisaran USD70 miliar hingga USD79 miliar.

Namun angka tersebut bukan merupakan pendapatan langsung, melainkan nilai bruto dari kandungan logam sebelum memperhitungkan faktor pemulihan (recovery rate), biaya produksi, biaya pengolahan, serta siklus penambangan yang berlangsung bertahun-tahun. 

Dalam praktiknya, realisasi pendapatan akan tersebar dalam jangka panjang, mengikuti rencana produksi tahunan dan kapasitas fasilitas pengolahan.

Target Produksi 2026

Untuk 2026, MBMA menargetkan produksi bijih saprolit di kisaran 8,0 hingga 10,0 juta wmt, serta limonit sebesar 20,0 hingga 25,0 juta wmt. Volume ini menunjukkan bahwa monetisasi cadangan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus, sehingga arus pendapatan akan mengikuti ritme produksi dan harga komoditas.

Jika dikaitkan dengan kadar nikel dan asumsi konversi sederhana, produksi tersebut mencerminkan potensi suplai bahan baku yang cukup besar untuk mendukung operasi smelter internal. Di titik ini, strategi swasembada bijih saprolit menjadi relevan karena mengurangi ketergantungan pada pihak eksternal dan menjaga stabilitas biaya bahan baku.

Pernyataan manajemen yang menekankan integrasi sepanjang rantai nilai baterai kendaraan listrik juga menunjukkan bahwa nilai ekonomi tidak hanya berasal dari penjualan bijih mentah.

Nilai tambah utama justru berada pada proses hilirisasi, di mana nikel diolah menjadi produk bernilai lebih tinggi seperti nickel pig iron atau bahan baku baterai.

Dengan demikian, peningkatan cadangan dan sumber daya ini tidak hanya memperbesar skala operasi, tetapi juga memperpanjang umur tambang dan memastikan keberlanjutan pasokan untuk fasilitas hilir. 

Dalam konteks pasar, hal ini biasanya diterjemahkan sebagai peningkatan visibilitas jangka panjang terhadap produksi dan arus kas.

Pergerakan ini juga memperlihatkan pergeseran fokus dari sekadar eksplorasi menuju optimalisasi rantai nilai. Ketika cadangan meningkat dan pasokan internal lebih terjamin, fleksibilitas operasional ikut meningkat, terutama dalam mengatur komposisi bijih antara saprolit dan limonit sesuai kebutuhan smelter.

Dengan basis cadangan yang mencapai jutaan ton nikel dan sumber daya yang jauh lebih besar, MBMA berada dalam posisi untuk menjaga kesinambungan produksi dalam jangka panjang. 

Angka-angka ini pada akhirnya tidak hanya menjadi indikator kekuatan aset, tetapi juga menjadi dasar dalam membaca potensi monetisasi yang akan terealisasi secara bertahap melalui produksi, pengolahan, dan dinamika harga nikel global.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79