Logo
>

COAL Bentuk Anak Usaha saat Saham Masih Tertahan di Level Bawah

COAL dirikan entitas pelayaran dengan modal Rp2 miliar, namun pergerakan saham masih stagnan di tengah tekanan supply pada orderbook.

Ditulis oleh Yunila Wati
COAL Bentuk Anak Usaha saat Saham Masih Tertahan di Level Bawah
COAL dirikan anak usaha di tengah saham yang bergerak sempit dan kinerja keuangan yang mulai pulih. (Foto: dok COAL)

KABARBURSA.COM – Langkah PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) mendirikan entitas anak baru mulai membuka arah ekspansi yang bergerak keluar dari inti bisnisnya. 

Pada 29 Maret 2026, COAL resmi membentuk PT Black Diamond Shipping (BDS), dengan kepemilikan hampir penuh sebesar 99,95 persen dari total modal disetor Rp2 miliar.

Direktur Utama COAL Donny Janson Manua, dalam keterbukaan informasi, menyatakan pembentukan entitas ini ditujukan untuk memperluas lini usaha, khususnya di sektor transportasi laut dan jasa pendukung pelayaran. 

“Tidak ada dampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha,” ujarnya, Selasa, 7 April 2026.

Struktur usaha BDS mencakup berbagai aktivitas maritim, mulai dari angkutan laut barang dalam dan luar negeri, pengelolaan kapal, jasa keagenan, hingga penyewaan alat transportasi air. 

Cakupan ini menunjukkan arah diversifikasi yang terhubung langsung dengan rantai distribusi logistik, terutama untuk kebutuhan pengangkutan komoditas.

Saham Bergerak Sempit

Sayangnya, pergerakan saham COAL pada hari yang sama belum menunjukkan respons signifikan. Harga ditutup di level 56 atau stagnan, tanpa perubahan dari posisi sebelumnya. 

Bahkan sepanjang sesi, saham bergerak dalam rentang sempit antara 54 hingga 57, dengan volume transaksi mencapai 411,64 ribu lot dan nilai Rp2,3 miliar.

Struktur orderbook juga memperlihatkan distribusi antrian yang relatif berat di sisi penawaran. Total offer tercatat sebesar 552.415 lot dengan frekuensi 889 kali, lebih besar dibandingkan total bid 463.788 lot dengan frekuensi 770 kali. 

Pada lapisan harga terdekat, tekanan jual terlihat menumpuk di level 56 hingga 61, dengan antrian terbesar berada di level 57 sebesar 60.218 lot dan 60 sebesar 61.578 lot.

Di sisi bawah, antrian beli tersebar cukup tebal di level 50 hingga 54, dengan akumulasi terbesar berada di level 50 sebesar 191.212 lot dan 54 sebesar 102.286 lot. 

Komposisi ini menunjukkan adanya keseimbangan antara minat beli dan jual, namun dengan kecenderungan supply yang masih lebih dominan di area atas harga.

Kinerja Keuangan Mulai Diperbaiki

Dari sisi kinerja keuangan, COAL mencatatkan pola yang berfluktuasi sepanjang 2024 hingga 2025. Pada kuartal III 2025, COAL mencatat pendapatan sebesar Rp78 miliar dengan laba bersih Rp14 miliar. 

Angka ini meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatat laba bersih Rp12 miliar, namun masih berada di bawah capaian kuartal III 2024 sebesar Rp16 miliar.

Jika ditarik lebih dalam, perbaikan laba pada 2025 terjadi setelah tekanan yang cukup dalam pada akhir 2024, yaitu ketika perusahaan mencatat rugi bersih Rp10 miliar di kuartal IV. 

Pada kuartal I hingga III 2025, laba bersih masing-masing berada di Rp5 miliar, Rp12 miliar, dan Rp14 miliar. Artinya, ada pemulihan bertahap dalam kinerja operasional.

Dari sisi profitabilitas, margin juga mengalami perbaikan. Laba usaha pada kuartal III 2025 tercatat Rp12 miliar, dengan laba sebelum pajak Rp14 miliar. Sementara itu, EBITDA pada periode yang sama berada di Rp24,23 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan Rp23,68 miliar pada kuartal sebelumnya.

Indikator rasio juga menunjukkan penguatan dibandingkan periode sebelumnya. Return on equity tercatat 3,57 persen pada kuartal III 2025, naik dari 3,20 persen di kuartal II. Interest coverage berada di level 3,22 kali, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menutup beban bunga tetap terjaga.

Anak Usaha tidak Berdampak Material

Dalam konteks tersebut, pembentukan BDS muncul di tengah fase pemulihan kinerja keuangan yang belum sepenuhnya stabil. Dengan fokus pada sektor logistik maritim, entitas baru ini berada dalam jalur yang berkaitan dengan distribusi komoditas, yang selama ini menjadi bagian dari rantai nilai bisnis COAL.

Di sisi lain, tidak adanya dampak material yang disampaikan perusahaan menunjukkan bahwa kontribusi entitas ini masih berada pada tahap awal. Dengan modal disetor Rp2 miliar, skala operasional BDS masih relatif kecil dibandingkan total aset dan aktivitas bisnis COAL secara keseluruhan.

Pergerakan saham yang cenderung datar, ditambah struktur orderbook yang masih menunjukkan tekanan di sisi penawaran, memperlihatkan bahwa pasar belum merespons aksi korporasi ini secara signifikan pada perdagangan hari tersebut.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79