KABARBURSA.COM – Transcoal Pacific Tbk baru saja melaporkan kinerja keuangannya yang menunjukkan perbaikan signifikan, terutama pada sisi laba. Namun, di balik laporan tersebut, pergerakan sahamnya justru tersungkur. Banyak investor yang melepas kepemilikan.
TCPI mencatatkan laba bersih sebesar Rp117,04 miliar, naik 37,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp85,38 miliar. Kenaikan ini terjadi di tengah pendapatan yang relatif stagnan di Rp1,91 triliun, bahkan turun tipis 0,6 persen dari Rp1,93 triliun pada 2024.
Tekanan sebenarnya terlihat pada sisi operasional. Beban pokok pendapatan meningkat 4,3 persen menjadi Rp1,45 triliun. Kenaikan ini membuat laba bruto turun 13,5 persen menjadi Rp459,81 miliar, dari sebelumnya Rp531,41 miliar.
Artinya, margin usaha mengalami penurunan meskipun perusahaan berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih.
Sementara itu, perbaikan laba lebih banyak ditopang oleh faktor non-operasional. Laba sebelum pajak tercatat naik 38,1 persen menjadi Rp128,59 miliar, didorong oleh penurunan beban bunga sebesar 9,7 persen menjadi Rp97,68 miliar.
Tidak hanya beban bunga, denda pajak juga turun signifikan sebesar 60,6 persen menjadi Rp5,23 miliar. Pun dengan rugi selisih kurs yang menyusut menjadi Rp4,33 miliar dari Rp9,53 miliar pada tahun sebelumnya.
Kontribusi tambahan juga datang dari pos penjualan aset tetap yang berbalik mencatat laba sebesar Rp154 juta, dibandingkan rugi Rp111,6 miliar pada 2024. Dengan beban pajak sebesar Rp3,1 miliar, laba tahun berjalan tercatat Rp125,49 miliar atau naik 40,7 persen secara tahunan.
Dari sisi neraca, total aset TCPI meningkat 5,1 persen menjadi Rp3,87 triliun, dengan ekuitas naik 3,5 persen menjadi Rp2,21 triliun. Namun, liabilitas juga mengalami kenaikan 7,3 persen menjadi Rp1,66 triliun. Sedangkan posisi kas justru turun 12,3 persen menjadi Rp66,57 miliar.
Sayangnya, kinerja baik ini tidak seiring dengan pergerakan saham. Hingga pukul 14.00 Selasa, 7 April 2026, saham TCPI terkoreksi tajam 5,86 persen ke level 11.250. Respons pasar tidak sepenuhnya sejalan dengan pertumbuhan bottom line.
Sepanjang sesi perdagangan, saham dibuka di 12.000 dan sempat menyentuh level tertinggi yang sama sebelum akhirnya tertekan hingga menyentuh titik terendah di 11.125.
Dengan rata-rata harga di 11.650 dan nilai transaksi mencapai Rp16 miliar, tekanan jual terlihat dominan sejak pertengahan sesi hingga penutupan. Ada distribusi yang cukup konsisten di level atas.
Struktur orderbook juga memperlihatkan ketidakseimbangan tipis antara sisi bid dan offer, namun dengan tekanan harga yang lebih condong ke bawah. Total antrian beli tercatat 975 lot dengan frekuensi 41 kali, sementara antrian jual sedikit lebih rendah di 964 lot dengan frekuensi 53 kali.
Meskipun secara jumlah lot relatif seimbang, frekuensi di sisi offer yang lebih tinggi menunjukkan intensitas jual yang lebih aktif.
Di lapisan harga terdekat, tekanan terlihat pada sisi atas dengan offer mulai dari 11.325 hingga 11.725 yang tersebar dalam beberapa lapisan. Sementara itu, sisi bid bertahan di kisaran 11.250 hingga 11.000, dengan dukungan terbesar berada di level psikologis 11.000.
Struktur ini menunjukkan bahwa ruang penahan harga masih ada, namun belum cukup kuat untuk membalikkan arah pergerakan dalam jangka pendek.
Pergerakan saham yang terkoreksi di tengah pertumbuhan laba memperlihatkan adanya perbedaan arah antara kinerja fundamental dan respons pasar jangka pendek.
Dengan tekanan jual yang masih terlihat dalam struktur orderbook serta distribusi di level atas harga, pergerakan TCPI pada sesi ini mencerminkan fase penyesuaian yang masih berlangsung di tengah data keuangan yang telah dirilis.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.