Market Watch

12 Jul 2026

BKDP 103 +33,77%
KONI 2.900 +25,00%
KOKA 170 +21,43%
NTBK 106 +17,78%
RBMS 66 +15,79%
DATA 2.310 +11,06%
DGIK 138 +10,40%
NANO 22 +10,00%
LMAX 112 +9,80%
CASH 202 +9,19%
KREN 12 +9,09%
KKES 61 +8,93%
PIPA 124 +8,77%
PLAN 38 +8,57%
BOGA 1.625 +8,33%
ELSA 655 +8,26%
AEGS 40 +8,11%
NRCA 454 +8,10%
MEDS 81 +8,00%
FWCT 84 +7,69%
CASA 2.000 +7,53%
SAGE 30 +7,14%
HOPE 160 +6,67%
ASMI 16 +6,67%
BKDP 103 +33,77%
KONI 2.900 +25,00%
KOKA 170 +21,43%
NTBK 106 +17,78%
RBMS 66 +15,79%
DATA 2.310 +11,06%
DGIK 138 +10,40%
NANO 22 +10,00%
LMAX 112 +9,80%
CASH 202 +9,19%
KREN 12 +9,09%
KKES 61 +8,93%
PIPA 124 +8,77%
PLAN 38 +8,57%
BOGA 1.625 +8,33%
ELSA 655 +8,26%
AEGS 40 +8,11%
NRCA 454 +8,10%
MEDS 81 +8,00%
FWCT 84 +7,69%
CASA 2.000 +7,53%
SAGE 30 +7,14%
HOPE 160 +6,67%
ASMI 16 +6,67%
Makro 19 May 2025 Penulis: Redaksi KabarBursa Editor: Syahrianto

Sticky Inflation bikin The Fed Belum Berani Pangkas Suku Bunga

Inflasi AS menurun jadi 2,3 persen, tapi tekanan dari sektor jasa, properti, dan tenaga kerja membuat The Fed tetap menahan suku bunga acuannya pada Mei 2025.

CORE melihat penurunan inflasi AS belum cukup aman. Sticky inflation dari jasa dan upah tenaga kerja bikin The Fed belum berani turunkan suku bunga.

CORE melihat penurunan inflasi AS belum cukup aman. Sticky inflation dari jasa dan upah tenaga kerja bikin The Fed belum berani turunkan suku bunga. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
CORE melihat penurunan inflasi AS belum cukup aman. Sticky inflation dari jasa dan upah tenaga kerja bikin The Fed belum berani turunkan suku bunga. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

Daftar Isi

  1. 01 Dampak ke Pasar Global dan Indonesia

KABARBURSA.COM  – Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 4,25 persen–4,50 persen dalam rapat FOMC pada 7 Mei 2025, sebagaimana tertulis dalam pernyataan resminya di laman federalreserve.gov.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai keputusan The Fed menahan suku bunga acuannya pada Mei 2025 sebagai bentuk kehati-hatian yang diperhitungkan.

Menurutnya, meski inflasi di Amerika Serikat tengah mengalami tren penurunan, The Fed belum melihat adanya urgensi atau ruang yang cukup aman untuk segera melonggarkan kebijakan moneter.

“Ini bentuk kehati-hatian menurut saya, karena kalau melihat dari kondisi sekarang sebetulnya kan inflasi di Amerika sedang turun secara year-on-year. Di bulan April itu inflasinya berada di angka 2,3 persen,” ujar Faisal saat dihubungi KabarBursa.com, Senin, 19 Mei 2025.

Ia menjelaskan penurunan inflasi tersebut didorong oleh beberapa faktor, utamanya dari sisi harga-harga komoditas seperti gasoline dan energi. Harga pangan juga mengalami penurunan yang turut menekan laju inflasi. 

Namun demikian, ada komponen inflasi yang justru meningkat, yakni dari sektor manufaktur, seperti kendaraan bermotor dan produk barang tahan lama lainnya. “Yang naik itu harga-harga barang-barang manufaktur, misalnya kendaraan. Tapi secara umum inflasi di bulan April itu lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya,” kata Faisal.

Ia merinci inflasi Maret tercatat 2,4 persen, Februari 2,8 persen, dan Januari 3 persen. Artinya, ada tren penurunan yang konsisten selama empat bulan terakhir.

Di tengah menurunnya inflasi, banyak pihak awalnya berharap The Fed segera melakukan pivot, yakni mulai menurunkan suku bunga acuan guna mendorong pemulihan ekonomi global yang masih rapuh. Namun, Faisal menggarisbawahi kehati-hatian The Fed cukup beralasan.

Terlalu cepat melonggarkan suku bunga justru bisa berisiko membalikkan kembali tren inflasi yang sudah mulai jinak. “Saya kira The Fed sangat memperhatikan sticky inflation, yaitu inflasi yang berasal dari sektor-sektor yang sulit turun dengan cepat, seperti jasa dan sektor properti. Ini yang membuat mereka memilih untuk menahan suku bunga,” jelasnya.

Faisal menilai The Fed tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu di mana penurunan suku bunga dilakukan terlalu cepat sehingga menyebabkan tekanan inflasi kembali membesar. 
Kebijakan moneter yang hati-hati ini dinilai sebagai bentuk forward guidance agar pelaku pasar tidak buru-buru berspekulasi terhadap pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Dampak ke Pasar Global dan Indonesia

Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga di level 4,25 persen-4,50 persen tentu memberikan efek ke berbagai pasar di dunia, tak terkecuali Indonesia. Nilai tukar rupiah, pasar obligasi, hingga arus modal asing menjadi sektor-sektor yang paling terpengaruh dari arah kebijakan bank sentral AS tersebut.

Menurut Faisal, respons pasar Indonesia akan sangat tergantung pada persepsi risiko terhadap negara berkembang. Jika The Fed tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama, maka potensi tekanan terhadap nilai tukar dan capital outflow akan meningkat.

“Bagi Indonesia, kondisi seperti ini menuntut Bank Indonesia juga berhati-hati. Mereka harus menjaga daya tarik aset domestik agar tidak ditinggalkan investor asing, terutama jika imbal hasil di AS masih tinggi,” katanya.

Namun demikian, ia juga mencermati bahwa pasar finansial domestik telah mulai mengantisipasi langkah The Fed ini. Dengan beg, tekanan yang muncul mungkin tidak sebesar jika keputusan tersebut datang tanpa ekspektasi pasar sebelumnya.

“Pasar sudah mengantisipasi bahwa The Fed belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Jadi reaksi pasar tidak terlalu liar, walau tetap ada volatilitas di pasar keuangan,” jelasnya.

Faisal menilai keputusan The Fed bukan semata soal inflasi. Ada dimensi lain yang menjadi pertimbangan, seperti stabilitas sistem keuangan dan dinamika pasar tenaga kerja di AS. Ia mencermati pasar tenaga kerja Amerika masih cukup kuat dengan tingkat pengangguran yang rendah dan pertumbuhan upah yang masih relatif tinggi.

“Kalau sektor tenaga kerja masih ketat, artinya ada risiko inflasi upah. Ini yang juga mereka perhitungkan,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat The Fed menilai belum saatnya memberikan stimulus baru melalui pemangkasan suku bunga. Selama pasar tenaga kerja tetap panas, ada risiko bahwa permintaan agregat akan tetap tinggi dan mendorong inflasi naik kembali.

Dengan ketidakpastian arah kebijakan The Fed, Faisal mengingatkan pentingnya strategi domestik yang responsif namun tidak reaktif. Ia menekankan Indonesia harus memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri, termasuk menjaga stabilitas harga, memperbaiki neraca transaksi berjalan, dan meningkatkan ketahanan sektor keuangan.

“Dalam situasi seperti ini, jangan terlalu bergantung pada sinyal dari luar. Kita harus fokus memperkuat ekonomi domestik,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar pemerintah dan Bank Indonesia terus berkoordinasi erat dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Koordinasi fiskal dan moneter, menurutnya, sangat krusial dalam menghadapi dinamika global yang terus berubah.

“Stabilitas itu kuncinya. Kalau kita stabil, investor tetap percaya meskipun tekanan global naik,” kata Faisal.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
RE
KabarBursa.pro Editorial Team

Redaksi KabarBursa

Berita Terkait