KABARBURSA.COM - Nasdaq, indeks saham yang kerap menjadi barometer sektor teknologi, diperkirakan membuka perdagangan tanpa arah yang jelas. Sentimen lesu membayangi lantai bursa setelah Nvidia terpukul, imbas dari ketidakpastian pasar China yang terus bergolak di tengah memanasnya tensi dagang antara Amerika Serikat dan China.
Langkah Nvidia menghapus potensi penjualan ke pasar China dari proyeksi kuartalan menjadi sinyal kuat akan ketidakpastian jangka pendek. Padahal, perusahaan ini baru saja mendapatkan lampu hijau untuk menjual chip H20 ke China setelah menjalin kesepakatan pembagian keuntungan dengan pemerintah AS awal bulan ini.
Saham Nvidia sempat turun tipis 0,3 persen dalam sesi pra-pasar. Beberapa analis mencatat bahwa performa lini pusat data Nvidia menunjukkan kemungkinan adanya penghematan belanja dari para penyedia layanan cloud besar.
Meski tekanan nyata datang dari pasar internasional, Nvidia masih membawa kabar baik: proyeksi pendapatan kuartal tetap kuat, program pembelian kembali saham senilai US$60 miliar diumumkan, dan komentar CEO Jensen Huang yang penuh keyakinan turut menetralisir kecemasan investor atas tren permintaan kecerdasan buatan (AI).
"Untuk perusahaan biasa, hasil seperti ini sudah sangat mumpuni. Tapi Nvidia bukan perusahaan biasa," ujar Paul Meeks, Managing Director di Freedom Capital Markets. "Ketidakhadiran pendapatan dari China dan ketidakpastian pengiriman masih jadi bayangan. Semakin lama masalah ini tertunda, semakin kokoh pula produk substitusi dalam negeri China."
Optimisme terhadap potensi pendapatan AI masih menjadi mesin utama reli saham di Wall Street selama hampir tiga tahun terakhir. Walau diganggu peluncuran model AI murah asal China dan gejolak akibat tarif impor AS pada April lalu, pasar tetap menunjukkan daya tahan yang mengesankan.
Di sisi lain, saham perusahaan semikonduktor lain seperti Super Micro Computer dan AMD bergerak tidak menentu. Hal serupa juga terjadi pada mitra besar Nvidia seperti Meta dan Microsoft.
Sementara itu, Snowflake tampil mencolok. Sahamnya melonjak 14,4 persen usai menaikkan proyeksi pendapatan produk untuk tahun fiskal 2026, dipicu lonjakan permintaan berbasis AI.
Pukul 08.43 waktu New York, indeks Dow E-minis naik 71 poin atau 0,16 persen. S&P 500 E-minis menambah 6 poin (0,09 persen), dan Nasdaq 100 E-minis naik tipis 17,75 poin (0,08 persen).
Katalis lain yang menyokong S&P 500 menuju rekor tertinggi adalah meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada bulan September mendatang.
Kontrak berjangka indeks Russell 2000, yang dikenal sangat sensitif terhadap arah suku bunga, terangkat 0,5 persen jelang pembukaan pasar. S&P 500 futures mendekati posisi tertinggi sepanjang sejarah.
Menurut data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga September mencapai 84,2 persen. Klaim tunjangan pengangguran mingguan tercatat 229.000, sedikit lebih rendah dari ekspektasi 230.000.
Estimasi kedua PDB kuartal II juga menunjukkan perbaikan: tumbuh 3,3 persen dibanding proyeksi awal 3 persen. Sinyal bahwa ekonomi AS tetap tangguh.
Seluruh perhatian kini tertuju pada data Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang akan dirilis Jumat. Jika inflasi terbukti menguat, harapan pemangkasan suku bunga dapat meredup.
Publik juga menanti pidato dari Gubernur The Fed Christopher Waller pada Kamis ini. Dikenal berpandangan dovish, Waller disebut-sebut sebagai kandidat kuat pengganti Jerome Powell tahun depan.
Namun, ketegangan politik tetap membayangi. Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump dilaporkan mencoba mencopot Gubernur The Fed Lisa Cook, menambah ketidakpastian akan independensi bank sentral.
Dari sisi korporasi, saham CrowdStrike anjlok 3,4 persen setelah menyampaikan panduan pendapatan kuartal III yang lebih lemah dari perkiraan. Dollar General naik 4,7 persen usai menaikkan proyeksi kinerja tahunan. Di sisi lain, Hormel Foods melemah tajam 10,4 persen, terseret oleh prospek laba kuartalan yang meleset jauh dari ekspektasi analis.(*)