KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mengawali perdagangan sesi I Jumat, 2 Mei 2025, dengan penguatan yang cukup solid. IHSG naik 34,72 poin atau 0,51 persen ke level 6.801,51.
Sejak pembukaan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.811,21 sebelum terkoreksi tipis ke level terendah 6.797,76. Sentimen positif dari bursa global serta net buy asing menjadi katalis utama di awal sesi.
Total transaksi di seluruh pasar pagi ini mencapai 6,28 juta lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp720,18 miliar dari 41.370 kali transaksi. Aktivitas investor asing juga cukup mencolok dengan catatan net buy sebesar Rp239 miliar di pasar reguler. Artinya, minat asing masih sangat tinggi terhadap saham-saham domestik.
Pada perdagangan pagi ini sejumlah saham juga mengalami kenaikan dan masuk jajaran top gainers. Di antara saham yang mencuri perhatian, PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) yang bergerak di sektor industri berhasil melesat 15,27 persen ke harga Rp1.510.
Sementara itu, PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) yang bergerak di sektor barang konsumen siklikal juga naik tajam 10,23 persen ke Rp97. PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) dari sektor properti dan real estat menguat 10 persen ke Rp66. Selain itu, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) yang bergerak di sektor bahan baku naik 9,65 persen ke Rp250, disusul PT Indal Aluminium Industry Tbk (INAI) dari sektor bahan baku yang mencatatkan kenaikan 9,09 persen ke Rp192.
Namun di sisi lain, tekanan jual masih membayangi sejumlah saham. PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) dari sektor infrastruktur turun tajam 14,67 persen ke Rp256. PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) dari sektor industri melemah 9,85 persen ke Rp119. Di sektor barang konsumen non-siklikal, PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP) terkoreksi 7,35 persen ke Rp189. Pelemahan juga terjadi pada PT Multi Indocitra Tbk (MICE) yang turun 6,91 persen ke Rp458 dan PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk (NELY) dari sektor transportasi yang melemah 6,67 persen ke Rp392.
Kenaikan IHSG pagi ini didorong oleh menguatnya beberapa sektor. Secara sektoral, penguatan terbesar dicatatkan oleh sektor teknologi yang melonjak 1,59 persen, disusul sektor transportasi yang naik 0,82 persen dan sektor keuangan yang menguat 0,52 persen. Sementara itu, sektor barang konsumen non-siklikal masih tertahan dengan penurunan 0,43 persen dan sektor energi 0,16 persen.
Penguatan hari ini masih didorong oleh optimisme terhadap pemulihan ekonomi domestik dan akumulasi asing di saham-saham unggulan.
Ada setidaknya 265 saham mengalami kenaikan, 163 saham terkoreksi dan 206 saham stagnan.
Kenaikan IHSG sepekan ini sebelumnya sudah diprediksi oleh Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas Krisna Ramadhani di awal pekan. Ia menjelaskan secara teknikal, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju level 6.700 hingga 6.900 pada pekan ini. Menurut dia, level tersebut merupakan resistance penting, yakni Moving Average (MA) 50 monthly di level 6.850 dan MA200 weekly di level 6.900.
Apabila dalam minggu ini IHSG mampu bertahan di atas support penting 6.500, maka peluang penguatan ke resistance tersebut semakin terbuka. "Namun demikian, bahwa potensi kenaikan ini bersifat sementara (mark up) dan bukan merupakan tanda reversal tren turun, selama belum ada perubahan signifikan pada data arus dana asing (foreign flow) dan kondisi pasar global," kata Dimas melalui keterangan tertulisnya di Jakarta pada Senin, 28 April 2025.
Sementara itu, Analisis teknikal dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan posisi IHSG saat ini berada di akhir wave [a] dari wave B, yang berarti pasar perlu waspada akan potensi pembalikan arah.
“IHSG menguat 0,26 persen ke 6.766 disertai oleh peningkatan volume pembelian. Kami masih memperkirakan, posisi IHSG sedang berada di akhir wave [a] dari wave B, sehingga penguatan IHSG akan relatif terbatas,” kata Herditya dalam keterangan tertulis, Jumat, 2 Mei 2025.
Ia memproyeksikan area penguatan indeks akan menguji level 6.785–6.840. Namun, pasar harus mencermati risiko pembalikan arah menuju wave [b] yang bisa membawa IHSG turun ke kisaran 6.364–6.618. “Support kami perkirakan di level 6.708 dan 6.585, sementara resistance ada di 6.818 dan 6.877,” jelas Herditya.
Meski indeks masih punya ruang untuk menguat, pelaku pasar diingatkan untuk tak terlena. Herditya menyebutkan, “Waspadai, akan adanya potensi pembalikan arah dari IHSG untuk membentuk wave [b],” yang artinya area support menjadi penting untuk diperhatikan sebagai pijakan jika tekanan jual tiba-tiba meningkat.
Di tengah kondisi global yang masih bergejolak—mulai dari isu tarif Presiden Trump hingga fluktuasi harga komoditas—pasar domestik dituntut menjaga momentum dengan bijak. Pergerakan saham-saham berbasis komoditas, perbankan, dan ritel akan jadi barometer penting apakah sentimen optimis di pekan ini akan berlanjut atau justru mulai melemah.(*)