KABARBURSA.COM - Perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), mencatat pertumbuhan tipis laba bersih tahunan pada semester I 2024.
Menurut laporan keuangan yang dipublikasikan, BREN mengalami penurunan pendapatan sebesar 2,32 persen year-on-year menjadi USD290,07 juta pada semester I 2024. Pendapatan ini terdiri atas penjualan listrik kepada pihak ketiga sebesar USD132,54 juta, penjualan uap sebesar USD59,99 juta, biaya manajemen USD18.000, pendapatan sewa operasi USD77,69 juta, dan pendapatan sewa pembiayaan USD19,81 juta.
Di sisi lain, BREN mencatat beberapa beban, seperti beban depresiasi dan amortisasi sebesar USD36,94 juta, beban kompensasi dan tunjangan karyawan sebesar USD21,86 juta, beban konsultasi dan teknisi sebesar USD6,96 juta, tunjangan produksi kepada PGEO sebesar USD8,41 juta, dan beban keuangan sebesar USD67,92 juta.
Setelah memperhitungkan pendapatan dan beban lainnya, BREN berhasil mencatatkan kenaikan tipis pada laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD57,95 juta atau sekitar Rp950,08 miliar pada semester I 2024. Laba ini meningkat 0,53 persen dibandingkan dengan USD57,64 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, hingga 30 Juni 2024, BREN memiliki total liabilitas sebesar USD3 miliar, yang terdiri dari liabilitas jangka panjang sebesar USD2,70 miliar dan liabilitas jangka pendek sebesar USD300,06 juta.
BREN juga mencatatkan ekuitas sebesar USD700,21 juta dengan total aset mencapai USD3,70 miliar hingga akhir Juni 2023. Perusahaan ini berencana meningkatkan kapasitas terpasang sebesar 116 megawatt di WKP Wayang Windu, Salak, dan Darajat.
Proyek BREN
Direktur Utama Barito Renewables Energy Hendra Tan mengatakan pengembangan WKP saat ini masih menunggu perizinan dan dalam tahap negosiasi dengan para kontraktor-kontraktor yang ditunjuk untuk melaksanakan proyek-proyek tersebut.
“Proses tersebut diharapkan selesai akhir kuartal II 2024,” ujarnya, baru baru ini.
Proyek Wayang Windu, Salak, dan Darajat sendiri telah beroperasi dan memiliki kapasitas masing-masing sebesar 230,5 megawatt 381 megawatt dan 274,5 megawatt. Selain itu, BREN memiliki beberapa proyek yang sedang dalam tahap eksplorasi dan pengembangan lainnya.
Dua proyek yang sedang dalam tahap eksplorasi adalah Sekincau Selatan di Lampung Selatan dan Hamiding di Maluku Utara dengan kapasitas potensial mencapai 500 megawatt untuk masing-masing proyek.
Selain itu, terdapat tiga proyek BREN yang sedang dalam tahap pengembangan yakni Sidrap 2 di Sulawesi Selatan dengan kapasitas potensial 69 megawatt, serta proyek Sukabumi dan proyek Lombok dengan kapasitas potensial berturut-turut sebesar 150 megawatt dan 99 megawatt.
Di sisi lain, BREN memproduksi listrik sebesar 1.727 gigawatt hour (GWh) sampai dengan kuartal I/2024. Setiap tahunnya, net generation di power plant geothermal ini mampu mempertahankan net capacity factor di atas 90 persen.
Kinerja Keuangan 2023
Sepanjang tahun 2023, BREN menunjukkan pertumbuhan positif yang terlihat dari peningkatan pendapatan dan laba bersih perusahaan energi baru terbarukan (EBT) ini.
Berdasarkan laporan keuangan yang diterbitkan, BREN mencatat pendapatan sebesar USD594,93 juta, yang meningkat 4,42 persen secara tahunan (yoy) dari USD569,78 juta.
Rinciannya, penjualan listrik menyumbang USD275,12 juta, penjualan uap sebesar USD126,52 juta, biaya manajemen sebesar USD28.000, dan penjualan kredit karbon sebesar USD4.000.
Pendapatan dari sewa operasi berkontribusi sebesar USD152,75 juta, meskipun mengalami penurunan 0,27 persen secara tahunan. Pendapatan dari sewa pembiayaan juga turun 1,89 persen yoy menjadi USD40,50 juta.
Sebagai hasilnya, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk BREN tumbuh 17,88 persen secara tahunan menjadi USD107,41 juta sepanjang 2023, meningkat dari USD91,12 juta di tahun sebelumnya.
Di sisi lain, total aset BREN meningkat 3,38 persen yoy menjadi USD3,50 triliun per 31 Desember 2023, dibandingkan dengan USD3,39 triliun pada periode yang sama tahun 2022.
Jumlah liabilitas BREN turun 3,40 persen yoy dari USD2,95 triliun menjadi USD2,85 triliun per 31 Desember 2023, dengan rincian liabilitas jangka pendek sebesar USD236,29 juta dan liabilitas jangka panjang sebesar USD2,61 triliun.
Ditinggal Investor Asing
Setelah pada pertengahan Juli lalu investor asing melakukan akumulasi di saham besar emiten konglomerat Prajogo Pangestu, namun menjelang akhir Juli, tepatnya pada pekan lalu, tampaknya asing mulai melepas saham besar tersebut.
Adapun saham tersebut yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Sejak perdagangan 22 Juli hingga 26 Juli lalu, saham Prajogo tersebut mulai dilepas oleh asing. Berdasarkan data dari Refinitiv, di saham BREN, sejatinya masih ada asing yang melakukan akumulasi atau pembelian saham BREN. Adapun asing yang masih mengakumulasi di saham BREN yakni BlackRock Inc.
BlackRock pada pekan lalu terpantau melakukan akumulasi di saham BREN dengan dicicil. Pada 22 Juli lalu, kepemilikan BlackRock di BREN mencapai 104.811.300 lembar. Kemudian pada 23 Juli, BlackRock menambah kepemilikannya sehingga menjadi 105.173.100. Selanjutnya, BlackRock kembali menambah di saham BREN sehingga menjadi 105.254.300.
Di saham BREN, hanya satu yang melakukan akumulasi yakni BlackRock dan satu yang melakukan distribusi atau penjualan saham BREN, yakni Credit Agricole Group, itupun hanya berkurang sebesar 12 lembar saja. (*)