KABARBURSA.COM - Grup Djarum semakin agresif memperluas portofolio investasinya di pasar modal Indonesia. Lewat perusahaan investasi mereka, PT Dwimuria Investama Andalan (DIA), kelompok usaha milik keluarga Hartono ini kembali menunjukkan minat serius untuk memperkuat pijakan di sejumlah sektor strategis. Mulai dari layanan kesehatan, telekomunikasi, hingga kawasan industri.
Salah satu langkah terbarunya adalah pembelian saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), operator jaringan rumah sakit swasta ternama. Transaksi dilakukan pada 25 Juni 2025, dengan nilai mencapai Rp1,05 triliun.
Jumlah saham yang diakuisisi mencapai 559 juta lembar atau setara 3,64 persen dari total saham perusahaan. Yang menarik, saham itu dibeli langsung dari saham treasuri dengan harga Rp1.875 per saham, sekitar 27 persen di atas harga pasar yang kala itu berada di level Rp1.475.
Kucuran dana sebesar itu menjadi sinyal jelas, Djarum memandang sektor kesehatan sebagai bagian penting dari pertumbuhan jangka panjang.
Tak berselang lama, fokus investasi DIA mengarah ke PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), salah satu pemain utama infrastruktur menara telekomunikasi di Indonesia.
Rencana rights issue yang akan digelar pada Agustus 2025 senilai Rp5,5 triliun jadi peluang strategis berikutnya. Djarum, melalui Dwimuria, telah menyatakan komitmen sebagai standby buyer untuk menyerap 91,46 persen saham baru yang ditawarkan atau setara sekitar 7,39 miliar saham.
Lagi-lagi, mereka masuk dengan harga premium, Rp680 per saham, jauh di atas harga pasar saat ini yang masih berkisar Rp535. Langkah ini memperkuat posisi Djarum di sektor telekomunikasi, yang kini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Djarum Mantapkan Langkah ke Industri EV
Selain sektor kesehatan dan infrastruktur digital, perhatian Djarum kini juga tertuju pada kawasan industri yang dinilai memiliki prospek besar dalam transformasi ekonomi Indonesia. PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) menjadi salah satu target, terutama karena keterlibatannya dalam pengembangan kawasan industri di Subang.
Kawasan ini belakangan menjadi sorotan setelah muncul rencana investasi besar dari produsen kendaraan listrik asal Tiongkok, BYD, senilai Rp16 triliun. Menurut data Bursa Efek Indonesia, Dwimuria sudah menggenggam sekitar 5,2 persen saham SSIA atau sekitar 248 juta lembar.
Meski nilai transaksinya tidak diungkapkan ke publik, keterlibatan Djarum dalam kepemilikan menjadi sinyal kuat atas keyakinan mereka terhadap masa depan kawasan industri di koridor Jawa Barat.
Founder IIE Rita Efendy melihat, bagi pelaku pasar, langkah-langkah ini bukan sekadar diversifikasi. Ini adalah strategi jangka panjang yang dirancang dengan kalkulasi ketat dan pemahaman mendalam atas arah perekonomian. Grup Djarum dikenal berhati-hati dalam menanamkan investasi.
Mereka cenderung memilih sektor dengan fundamental kuat dan potensi pertumbuhan jangka panjang, sambil tetap menjaga prinsip tata kelola yang ketat dan efisiensi operasional.
Yang tengah dibangun Djarum bukanlah portofolio semata, melainkan fondasi ekonomi riil yang akan menopang nilai aset mereka di masa depan. Dari rumah sakit, menara telekomunikasi, hingga kawasan industri, semuanya adalah simpul penting dari struktur ekonomi nasional.
Apakah akan ada langkah lanjutan? Mengingat pola dan konsistensi mereka dalam memilih emiten strategis, bukan tidak mungkin sektor logistik, energi hijau, atau teknologi finansial akan masuk radar dalam waktu dekat.
Yang jelas, pasar kini semakin menaruh perhatian pada setiap pergerakan Djarum di lantai bursa. Karena ketika konglomerasi sekelas ini mulai menyusun kepemilikan di sektor vital, itu bukan hanya urusan bisnis, melainkan pertanda arah baru dari peta kekuatan ekonomi Indonesia.(*)