KABARBURSA.COM - Harga gas alam berjangka AS melonjak lebih dari 8 persen dan menembus USD4,45 per MMBtu (Rp73.425), tertinggi sejak Desember 2022. Lonjakan ini didorong oleh rekor ekspor Liquefied Natural Gas atau LNG serta proyeksi permintaan yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.
Ekspor LNG dari AS meningkat tajam di awal Maret setelah mencapai rekor 15,6 bcfd pada Februari, terutama berkat tambahan unit di fasilitas Plaquemines LNG milik Venture Global di Louisiana. Sementara itu, meskipun cuaca di AS diperkirakan lebih hangat hingga 18 Maret, permintaan gas tetap lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Cadangan gas alam AS kini juga tercatat 12 persen di bawah rata-rata lima tahun terakhir, menyusul gelombang dingin ekstrem di awal tahun.
“Kenaikan harga ini terjadi meskipun produksi gas mencapai rekor baru 104,7 bcfd pada Februari dan cuaca diprediksi tetap sejuk hingga pertengahan Maret,” demikian laporan TradingView, Rabu, 5 Maret 2025.
Selain faktor pasokan dan permintaan, harga gas juga terdorong oleh kabar dari Jerman yang membantah adanya pembicaraan dengan Rusia terkait kemungkinan pasokan gas melalui pipa Nord Stream 2 yang rusak sebagian. Ini berarti, Jerman dan negara Eropa lainnya kemungkinan tetap bergantung pada impor LNG dari AS yang mendorong harga gas lebih tinggi.
Pasokan dan Permintaan Global
Secara keseluruhan, produksi gas di wilayah Lower 48 AS meningkat ke 105,8 bcfd pada Maret, naik dari rekor sebelumnya 104,7 bcfd pada Februari. Meski begitu, dengan perkiraan cuaca yang lebih hangat, konsumsi gas diprediksi turun dari 119,3 bcfd pekan ini menjadi 114,7 bcfd pekan depan, meskipun angka ini masih lebih tinggi dibanding perkiraan sebelumnya.
Sementara itu, ekspor LNG dari AS terus meningkat dengan delapan fasilitas utama kini mengalirkan rata-rata 15,8 bcfd, naik dari 15,6 bcfd bulan lalu. Dengan kondisi ini, AS tetap menjadi eksportir LNG terbesar di dunia sejak 2023, mengungguli Australia dan Qatar, seiring meningkatnya permintaan global dan gangguan pasokan akibat konflik geopolitik.
Di pasar global, gas alam diperdagangkan sekitar USD14 per MMBtu (Rp231.000) di Eropa dan Asia, mengacu pada patokan Dutch TTF di Eropa dan Japan Korea Marker (JKM) di Asia.
Skema Harga Gas Alam di Indonesia
Di tengah lonjakan harga global, Indonesia tetap mempertahankan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk tujuh sektor industri, yakni pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet. Kebijakan ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 76.K/MG.01/MEM.M/2025, yang mulai berlaku sejak 26 Februari 2025.
“Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, Harga Gas Bumi Tertentu dibedakan berdasarkan pemanfaatan gas bumi sebagai bahan bakar sebesar USD7 per MMBtu (Rp115.500) dan untuk bahan baku sebesar USD6,5 per MMBtu (Rp107.250),” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam keterangan resminya di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Kebijakan ini menggantikan harga gas sebelumnya yang berkisar USD6,75 hingga USD7,75 per MMBtu dengan harapan dapat meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global, membuka lebih banyak lapangan kerja, serta menekan harga produk dalam negeri agar tetap terjangkau.
Ketua Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Sanny Iskandar, menilai skema ini penting untuk menjaga daya saing kawasan industri Indonesia agar tetap menarik bagi investor asing. Sejak diterapkan pada 2020, kebijakan HGBT diklaim telah:
- Menghemat biaya penyediaan listrik hingga Rp16,06 triliun pada 2022
- Mengurangi subsidi listrik hingga Rp4,10 triliun & kompensasi listrik Rp13,09 triliun
- Meningkatkan ekspor sebesar Rp127,84 triliun dalam periode 2020-2023
- Mendorong investasi industri hingga Rp91,17 triliun
Di satu sisi, harga gas global yang melonjak menunjukkan potensi kenaikan biaya energi bagi negara-negara pengimpor. Namun, Indonesia yang memiliki cadangan gas alam melimpah tetap berfokus pada strategi menjaga harga gas industri tetap kompetitif, sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi di tengah volatilitas pasar energi dunia.
Peluang Efek ke Saham Energi di Indonesia
Di tengah dinamika harga gas alam global dan kebijakan harga gas domestik yang lebih terkendali, ada satu faktor lain yang mulai menarik perhatian, yakni soal pergeseran tren energi di pasar global. Di Amerika Serikat, para investor mulai mengalihkan minatnya dari energi nuklir ke gas karena regulasi nuklir yang rumit. Tren ini berpotensi memberikan spillover effect ke pasar negara berkembang, termasuk Bursa Efek Indonesia (BEI).
Keterkaitan pasar modal global dengan BEI semakin erat, khususnya dalam sektor energi dan infrastruktur. Jika investor institusional global melihat peluang profit di sektor pembangkit berbasis gas di AS, bukan tidak mungkin mereka juga akan mencari peluang serupa di Indonesia.
Di Indonesia, pergeseran ke energi berbasis gas juga semakin kuat, didorong oleh kebijakan transisi energi dan pertumbuhan kebutuhan listrik industri. Beberapa emiten yang berpotensi mendapatkan manfaat dari tren ini meliputi:
1. PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC)
Sebagai salah satu pemain utama di sektor energi, Medco memiliki portofolio gas yang kuat, baik di sektor hulu maupun hilir. Dengan meningkatnya permintaan gas sebagai energi transisi, prospek bisnis MEDC bisa ikut terdorong.
2. PT Elnusa Tbk. (ELSA)
Anak usaha Pertamina ini memiliki eksposur besar di bisnis jasa migas, termasuk eksplorasi dan distribusi gas alam. Jika investasi ke infrastruktur gas meningkat, ELSA berpotensi mendapatkan lonjakan permintaan layanan eksplorasi dan transportasi gas.
3. PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS)
PGAS memiliki peran sentral dalam distribusi gas bumi ke industri dan pembangkit listrik di Indonesia. Dengan potensi ekspansi infrastruktur gas dan peningkatan konsumsi domestik, PGAS bisa menjadi salah satu penerima manfaat utama dari transisi energi berbasis gas.
4. PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG)
ENRG memiliki portofolio produksi gas dari Blok Bentu di Riau dan Blok Kangean di Jawa Timur, yang berkontribusi pada pasokan gas domestik. Hingga saat ini, ENRG belum melakukan ekspor gas dan masih fokus memenuhi permintaan dalam negeri. Dengan meningkatnya kebutuhan gas di sektor industri dan pembangkit listrik, potensi pertumbuhan ENRG tetap terbuka.
6. PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA)
RAJA berfokus pada infrastruktur gas, termasuk pengangkutan dan regasifikasi LNG, yang membuatnya menjadi pemain penting dalam rantai pasok gas domestik.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.