Logo
>

Harga Minyak Melonjak, Wall Street Terseret Kekhawatiran Inflasi

Nasdaq memimpin pelemahan Wall Street setelah lonjakan yield Treasury AS dan kekhawatiran inflasi gelombang kedua menekan sentimen pasar.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Harga Minyak Melonjak, Wall Street Terseret Kekhawatiran Inflasi
Ilustrasi Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi seiring lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan kekhawatiran investor terhadap potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

Tekanan paling besar terjadi di saham teknologi, membuat Nasdaq memimpin penurunan indeks utama. Indeks S&P 500 turun 0,7 persen ke level 7.353,61. Dow Jones Industrial Average melemah 0,6 persen menjadi 49.363,88, sedangkan Nasdaq terkoreksi 0,8 persen ke posisi 25.870,71.

“Indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah pada Selasa dengan Nasdaq memimpin penurunan,” tulis Reuters, Rabu, 20 Mei 2026.

Penurunan tersebut memperpanjang pelemahan tiga hari beruntun bagi S&P 500 dan Nasdaq. Saham teknologi kembali menjadi sektor paling sensitif terhadap kenaikan yield Treasury AS yang menekan valuasi saham berbasis pertumbuhan.

Yield Treasury tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,687 persen, tertinggi sejak Januari 2025. Sementara yield obligasi 30 tahun menyentuh 5,18 persen, level tertinggi sejak Juli 2007.

Kenaikan yield terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi second-wave inflation, terutama setelah harga energi kembali melonjak. Harga minyak Brent masih bertahan di atas USD110 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar USD103,64 per barel.

Kondisi tersebut dipicu risiko geopolitik di Timur Tengah, terutama ketegangan Iran-AS dan potensi gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak global.

Energy Information Administration (EIA) memperkirakan persediaan minyak global akan mengalami penarikan rata-rata 8,5 juta barel per hari pada kuartal II 2026. Situasi itu diperkirakan menjaga harga Brent di kisaran rata-rata USD106 per barel sepanjang Mei hingga Juni.

Di tengah tekanan pasar, fundamental korporasi AS sebenarnya masih menunjukkan kinerja kuat. Data FactSet mencatat 91 persen emiten dalam indeks S&P 500 telah merilis laporan keuangan kuartal I 2026.

Dari jumlah tersebut, 84 persen berhasil mencetak laba per saham atau earnings per share (EPS) di atas estimasi analis. Sementara itu, 80 persen emiten mencatat pendapatan melampaui ekspektasi pasar.

FactSet menyatakan, “The blended earnings growth rate for Q1 2026 is 27.7%.”

Pertumbuhan laba blended emiten S&P 500 tercatat mencapai 27,7 persen secara tahunan, sedangkan pertumbuhan pendapatan blended naik 11,4 persen YoY. Margin laba bersih blended juga tetap tinggi di level 14,7 persen.

Meski demikian, investor mulai mempertanyakan keberlanjutan reli pasar saham AS karena valuasi yang semakin premium di tengah kenaikan yield obligasi.

Forward 12-month price-to-earnings ratio (P/E) S&P 500 saat ini berada di 21 kali, lebih tinggi dibanding rata-rata lima tahun sebesar 19,9 kali dan rata-rata 10 tahun sebesar 18,9 kali.

Secara valuasi, price-to-book value (PBV) S&P 500 berada di sekitar 5,87 kali dengan dividend yield sekitar 1,07 persen.

ETF berbasis indeks utama Wall Street juga bergerak turun. SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY) melemah 0,659 persen ke USD733,73 dengan volume perdagangan 54,24 juta unit dan market cap sekitar USD649,70 miliar.

Invesco QQQ Trust (QQQ) turun 0,613 persen menjadi USD701,53 dengan volume 46,78 juta unit dan market cap USD334,45 miliar.

Sementara SPDR Dow Jones Industrial Average ETF (DIA) terkoreksi 0,612 persen ke USD493,98 dengan volume transaksi 5,36 juta unit.

Meski pasar terkoreksi dalam jangka pendek, kinerja indeks saham AS sepanjang tahun masih positif. Nasdaq masih menguat 11,3 persen secara year to date (YTD), Russell 2000 naik 10,7 persen, S&P 500 menguat 7,4 persen, dan Dow Jones naik 2,7 persen.

Risalah Federal Reserve terbaru menyebut inflasi diperkirakan kembali ke tren disinflasi sebelumnya dan mendekati target 2 persen pada akhir tahun depan.

Namun, survei Bank of America menunjukkan sekitar 40 persen investor global kini melihat second-wave inflation sebagai tail risk terbesar bagi pasar keuangan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.