KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak melemah, ditutup turun 0,19 persen ke level 6.865 pada perdagangan terakhir, Jumat, 4 Juli 2025.
Tekanan jual masih mendominasi pasar, seiring investor yang tampaknya masih memilih bersikap hati-hati. Namun, dari sisi teknikal, analis memperkirakan IHSG tengah berada di bagian dari gelombang (b) dalam struktur wave [b]. Artinya, peluang penguatan belum sepenuhnya tertutup.
Dalam risetnya, MNC Sekuritas melihat selama mampu bertahan di atas area support 6.824 dan 6.752, IHSG masih berpeluang untuk bergerak naik ke kisaran 6.992 hingga 7.050. Tapi jika tekanan jual kembali meningkat, ada risiko indeks menguji level bawah di 6.721 atau bahkan 6.582.
Dua skenario ini sama-sama valid tergantung reaksi pasar dalam beberapa hari ke depan, terutama menjelang rilis data makro dan sentimen global.
Perhatikan AADI, ADRO, ARCI dan HRTA
Sejumlah saham individual pun menarik perhatian teknikal trader, terutama bagi mereka yang menerapkan strategi beli saat harga melemah.
Salah satunya adalah saham Astra Agro Lestari (AADI) yang menguat 1,08 persen ke level 7.000. Meski volume pembelian mulai menurun, arah pergerakan AADI masih menunjukkan potensi penguatan.
Posisi harga saat ini dinilai berada dalam gelombang [b] dari wave B, membuka ruang untuk kenaikan menuju 7.175 hingga 7.325. Level akumulasi yang disarankan berada di rentang 6.875–6.975, dengan pengamanan risiko di bawah 6.825.
Sementara itu, Adaro Energy Indonesia (ADRO) justru masih dalam tekanan, turun tipis 0,28 persen ke level 1.755. Dari sisi struktur teknikal, saham ini diperkirakan masih berada dalam fase koreksi wave (v) dari wave [c] dalam gelombang yang lebih besar. Hal ini membuat ADRO masih berpotensi melemah dalam jangka pendek.
Meski demikian, untuk investor dengan toleransi risiko tinggi, area beli spekulatif di kisaran 1.640–1.720 bisa dipertimbangkan. Target penguatan berada di level 1.825 dan 1.940, dengan stop loss di bawah 1.620.
Di sektor pertambangan emas, Archi Indonesia (ARCI) juga mengalami tekanan cukup tajam, melemah 2,48 persen ke level 590. Namun, penurunan ini dinilai sebagai bagian awal dari fase wave 5, yang artinya koreksi bisa terbatas.
Jika harga mampu bertahan di atas area 555, peluang penguatan ke 645 hingga 715 masih terbuka. Investor bisa memanfaatkan tekanan ini untuk akumulasi secara bertahap, dengan batas risiko di bawah 530.
Hal serupa juga terjadi pada saham Harum Energy (HRTA), yang ditutup melemah 0,83 persen ke level 595. Secara teknikal, HRTA diperkirakan masih bergerak dalam gelombang [b] dari wave Y. Dengan kata lain, tekanan jual belum tentu berlanjut dalam, dan koreksi saat ini bisa menjadi peluang untuk masuk.
Area beli menarik berada di rentang 565–590, sementara target jangka pendek ada di kisaran 630 dan 680. Stop loss disarankan di bawah 550.
Secara umum, meski IHSG dan sejumlah saham unggulan masih dibayangi tekanan jangka pendek, ruang teknikal untuk pemulihan tetap terbuka. Kunci bagi investor saat ini adalah kesabaran dan disiplin dalam memilih level masuk, sembari menjaga batas risiko secara ketat.
Dalam fase pasar yang bergerak hati-hati seperti sekarang, strategi beli saat harga melemah dengan analisis teknikal yang kuat masih menjadi pendekatan paling rasional.(*)