Logo
>

IHSG Ditutup Menguat Awal Pekan, Transaksi Keseluruhan Capai Rp7,21 Triliun

IHSG naik 0,52 persen ke 6.900,93 didorong sektor cyclical & energi. Asing net sell Rp239 miliar. Pasar waspada dampak tarif AS, inflasi, dan PMI global.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
IHSG Ditutup Menguat Awal Pekan, Transaksi Keseluruhan Capai Rp7,21 Triliun
Tampilan layar papan pantau di BEI. (Foto: Dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan penguatan moderat. Pada penutupan perdagangan Senin, 7 Juli 2025, IHSG naik 35,74 poin atau setara 0,52 persen ke posisi 6.900,93. 

Sepanjang sesi, indeks bergerak di rentang 6.844,86 hingga level tertingginya di 6.900,93, setelah dibuka pada 6.874,01.

Aktivitas perdagangan tercatat cukup aktif dengan total nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp7,21 triliun dari volume sebesar 140,83 juta lot dalam 873.210 kali transaksi. Di pasar reguler, tercatat nilai perdagangan Rp6,29 triliun dari 121,20 juta lot saham.

Berdasarkan data perdagangan di Stockbit, investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp239 miliar di pasar reguler. 

Total foreign buy tercatat sebesar Rp2,05 triliun dan foreign sell sebesar Rp2,29 triliun. Sementara itu, investor domestik mendominasi pasar dengan porsi 66,54 persen dari total transaksi, sedangkan investor asing berkontribusi sebesar 33,46 persen.

Lima saham dengan kenaikan tertinggi hari ini dipimpin oleh PT Victoria Investama Tbk dari sektor keuangan (VICO) yang melonjak 33,33 persen ke harga Rp192. 

Disusul oleh PT Hotel Sahid Jaya International Tbk dari sektor properti dan real estat (SHID) yang menguat 25,00 persen ke Rp1.075. Kenaikan signifikan juga dibukukan oleh PT Green Power Group Tbk dari sektor energi (LABA) yang naik 15,38 persen ke Rp270.

Kemudian PT Transkon Jaya Tbk dari sektor transportasi dan logistik (TRJA) naik 13,14 persen ke Rp155, serta PT Victoria Insurance Tbk dari sektor keuangan (VINS) yang menguat 13,04 persen ke Rp130.

Di sisi lain, pelemahan terbesar dialami oleh PT Cipta Selera Murni Tbk dari sektor consumer cyclical (CSMI) yang turun 14,67 persen ke Rp1.105. Penurunan juga dialami oleh PT Sumber Sinergi Makmur Tbk dari sektor teknologi (IOTF) yang melemah 14,61 persen ke Rp76, diikuti PT Indah Prakasa Sentosa Tbk dari sektor energi (INPS) yang turun 14,47 persen ke Rp130.

Selanjutnya, PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk dari sektor consumer non-cyclical (YUPI) melemah 12,88 persen ke Rp2.030 dan PT Mandala Multifinance Tbk dari sektor keuangan (MFIN) yang turun 11,48 persen ke Rp2.700.

Dari sisi sektoral, penguatan tertinggi dicatat oleh sektor consumer cyclical yang naik 0,93 persen, disusul sektor energi naik 0,67 persen, sektor industri naik 0,45 persen, dan sektor keuangan naik 0,44 persen.

Sementara itu, sektor kesehatan melemah 0,66 persen, sektor transportasi turun 0,33 persen, dan sektor bahan baku terkoreksi 0,21 persen.

IHSG Diprediksi Bergerak Bervariasi Menyusul Pengumuman Tarif AS

IHSG diperkirakan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat pada pekan ini, seiring ekspektasi positif terhadap hasil negosiasi dagang Amerika Serikat dengan negara mitra utama yang dijadwalkan diumumkan pada 9 Juli 2025. 

PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menyampaikan bahwa investor perlu mencermati sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat, terutama komoditas dan energi, di tengah arah pasar yang masih ditentukan oleh perkembangan global.

IHSG diproyeksikan bergerak dalam kisaran support di 6815 dan resistance di 6970 pada 7 sampai 11 Juli 2025 ini , setelah pada pekan lalu mengalami koreksi tipis sebesar 0,47 persen dengan tekanan jual asing mencapai Rp2 triliun.

"Pasar saat ini berada di persimpangan. Ada potensi meredanya ketegangan dagang, tapi juga risiko dari kebijakan fiskal dan suku bunga AS," ujar Equity Analyst IPOT Imam Gunadi Senin, 7 Juli 2025.

Ia menilai bahwa ketidakpastian global justru dapat menciptakan peluang bagi investor yang fokus pada sektor berpotensi dan tahan banting. Penurunan kinerja IHSG disebut Imam dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik, salah satunya perkembangan data PMI manufaktur dari China, AS, dan Indonesia.

Menurut dia China menunjukkan perbaikan kinerja manufaktur berdasarkan data NBS Manufacturing PMI yang naik dari 47,5 menjadi 49,7 pada Juni 2025. 

Peningkatan didorong oleh kenaikan pesanan baru ke zona ekspansi di 50,2 dan output yang meningkat ke 51. Aktivitas pembelian juga membaik untuk pertama kalinya sejak Maret. Meskipun mayoritas indikator masih berada di area kontraksi, tren pemulihan ini dinilai menjadi dampak positif dari pertemuan dagang sebelumnya di London.

Sementara itu, data ISM Manufacturing PMI AS juga menunjukkan perbaikan. Produksi naik signifikan ke 50,3 dari 45,4, dan inventori meningkat ke 49,2 dari sebelumnya 46,7. Hal ini mengindikasikan potensi peningkatan impor barang dari China. Namun, permintaan domestik AS masih melemah, terlihat dari kontraksi pesanan baru yang turun ke 46,4.

Berbeda dengan dua negara tersebut, PMI manufaktur Indonesia justru menurun ke 46,9 dari 47,4 pada Mei. Penurunan tajam permintaan domestik menyebabkan pelemahan pada output, pembelian bahan baku, hingga penurunan ketenagakerjaan yang disebut Imam sebagai yang terdalam dalam hampir empat tahun terakhir. 

Para pelaku usaha dinilai masih menunggu kepastian dari arah kebijakan dagang AS sebelum mengambil keputusan ekspansi atau efisiensi.

Dari sisi domestik, peningkatan inflasi menjadi salah satu indikator membaiknya daya beli masyarakat. Inflasi tahunan pada Juni 2025 tercatat sebesar 1,87 persen, naik dari 1,6 persen pada Mei dan berada di atas konsensus 1,83 persen. 

Kontributor utama inflasi berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama karena kenaikan harga emas perhiasan yang menyumbang andil 0,59 persen terhadap inflasi bulan lalu.

Meski demikian, pasar tetap mencermati risiko kebijakan fiskal AS setelah Senat menyetujui rancangan undang-undang pajak dan belanja yang diusulkan Donald Trump. RUU tersebut mencakup efisiensi program sosial, perpanjangan pemotongan pajak, serta peningkatan anggaran militer dan imigrasi.

Tambahan utang nasional sebesar 3,3 triliun dolar AS atau setara Rp53.000 triliun berpotensi meningkatkan penerbitan surat utang AS dan mendorong kenaikan yield US Treasury. 

Imam menilai hal ini bisa mendorong investor global menarik dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia untuk dialihkan ke aset berisiko rendah.

Selain itu, data tenaga kerja AS tetap menunjukkan ketangguhan. Tingkat pengangguran menurun ke 4,1 persen dari 4,2 persen, dan Non-Farm Payrolls meningkat 147 ribu, lebih tinggi dari konsensus 110 ribu. 

Kuatnya data pasar tenaga kerja turut menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed. Probabilitas penurunan suku bunga pada Juli 2025 kini menyusut drastis ke 4,7 persen dari sebelumnya 18,6 persen pada akhir Juni.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".