KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terpantau konsisten berada di zona merah. Koreksinya indeks tidak lepas dari gejolak sosial yang terjadi beberapa hari terakhir.
Mengutip data Stockbit, Jumat, 29 Agustus 2025 pukul 15:00 WIB, IHSG masih terpantau melemah sebesar 1,17 persen di level 7.858. Terpantau, hanya sektor industri yang menghijau.
Di tengah kondisi seperti ini, investor disarankan untuk tetap memperhatikan portfolio mereka. Di sisi lain, melemahnya IHSG juga bisa menjadi momentum karena beberapa harga saham menurun.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan para investor saat ini bisa mengakumulasi saham pilihan dengan prospek yang solid.
"Beli saat (harga) turun, raih keuntungan jika diperlukan," ujar dia kepada Kabarbursa.com, Jumat, 29 Agustus 2025.
Tak lupa, Nafan juga mengimbau agar para investor bisa manfaatkan manajemen risiko secara efektif.
Terkait proyeksi IHSG, Nafan menjelaskan jika kinerja indeks selama bulan September dalam lima tahun terakhir rata-rata mengalami bearish atau cenderung menurun.
"Namun Oktober hingga Desember bisa tergolong bullish," pungkasnya.
Jadi Sentimen Negatif, Pengamat: Gejolak Sosial Bikin Investor Kabur
Gejolak sosial yang terjadi di Indonesia beberapa hari terakhir menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terdampak.
Pada perdagangan Jumat, 29 Agustus 2025, IHSG dibuka melemah 0,91 persen ke level 7.879. Mengutip Stockbit, hampir seluruh sektoral mengalami pelemahan pada pembukaan pagi ini.
Sektor properti terlihat yang mengalami koreksi paling dalam sebesar 1,90 persen, diposisi kedua ada infrastruktur yang melemah 1,86 persen.
Sektor barang siklikal dan barang dasar juga tidak luput dari tekanan dengan penurunan masing-masing 1,65 persen dan 1,55 persen. Sementara itu, sektor teknologi turun 0,83 persen, energi 0,88 persen, keuangan 1,05 persen, serta transportasi 0,96 persen.
Penurunan lebih terbatas terjadi pada sektor industri yang melemah 0,39 persen, kesehatan 0,65 persen, dan non-siklikal 0,67 persen.
Pengamat Pasar Modal sekaligus founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, anjloknya IHSG mencerminkan rapuhnya psikologis pasar terhadap gejolak politik dan keamanan di dalam negeri.
Ia mengatakan aksi massa yang merebak di Jakarta dan sejumlah daerah menjadi sentimen negatif karena meningkatkan ketidakpastian politik. Hal ini membuat investor asing maupun pun domestik melepas portfolio di pasar saham Indonesia.
"Pasar modal sangat sensitif terhadap isu stabilitas. Begitu muncul potensi risiko keamanan, investor asing maupun domestik cenderung menahan diri, bahkan melepas portofolio untuk mengamankan posisi likuid," ujar dia dalam risetnya kepada Kabarbursa.com, Jumat, 29 Agustus 2025.
Gejolak sosial ini diperparah oleh respons pemerintah yang dinilai belum tepat. Alih-alih menjalin komunikasi terbuka dengan masyarakat, kata Hendra, langkah yang muncul justru berupa himbauan work from home (WFH) bagi anggota DPR.
Ia menilai kebijakan ini menimbulkan persepsi bahwa pemerintah dan wakil rakyat lebih memilih menjauh ketimbang mendengar aspirasi langsung.
"Padahal, pasar butuh sinyal stabilitas dan kepastian. Dalam ekonomi, persepsi sering kali lebih kuat pengaruhnya dibanding fakta di lapangan," ungkapnya.
Tak mengherankan jika situasi ini menjadi sorotan media internasional. Hendra menyebut jika investor global yang memantau Indonesia melihat adanya eskalasi ketidakpastian politik, yang berujung pada aksi jual di pasar keuangan.
"Inilah sebabnya IHSG cepat merespons dan tertekan signifikan. Kondisi serupa juga dialami nilai tukar rupiah yang ikut berfluktuasi," tuturnya.
Secara teknikal, menurut analisa Hendra, IHSG kini bergerak mendekati area support penting di kisaran gap 7.800–7.840. Area ini diperkirakan akan menjadi penahan pertama bagi tekanan jual.
Ia menyampaikan jika level tersebut berhasil bertahan, ada peluang IHSG kembali konsolidasi. Namun bila jebol, risiko koreksi lebih dalam bisa terbuka.
"Oleh karena itu, banyak pelaku pasar saat ini memilih strategi defensif sembari menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah," ungkapnya.(*)