Logo
>

Investor Merapat, Emiten Properti CLAY Catatkan Laba Besar: Potensi Cuan 2025?

Ditulis oleh Yunila Wati
Investor Merapat, Emiten Properti CLAY Catatkan Laba Besar: Potensi Cuan 2025?

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - PT Citra Realty Tbk (CLAY) mencetak lonjakan laba signifikan pada periode yang berakhir 30 September 2024.

    Dalam laporan keuangannya, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp10,89 miliar, melambung 3.102 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp348,87 juta. Lonjakan laba ini turut mendorong peningkatan laba per saham dasar menjadi Rp4,24 dari sebelumnya Rp1,37.

    Pendapatan CLAY juga menunjukkan tren positif, tumbuh 17 persen menjadi Rp187,52 miliar dibandingkan pendapatan Rp159,78 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan pendapatan ini didukung oleh peningkatan laba kotor yang mencapai Rp98,88 miliar, naik dari Rp78,56 miliar pada triwulan ketiga tahun lalu.

    Meski demikian, beban usaha perusahaan mengalami peningkatan signifikan dari Rp55,29 miliar menjadi Rp72,44 miliar. Selain itu, pendapatan lain-lain tercatat turun menjadi Rp200,54 juta dari Rp391,27 juta pada periode sebelumnya.

    Namun, beban keuangan CLAY berhasil ditekan menjadi Rp12,25 miliar dari Rp13,21 miliar, memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan laba sebelum pajak penghasilan hingga Rp14,38 miliar, naik 37,73 persen dari Rp10,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

    Dari sisi neraca, CLAY mencatatkan pertumbuhan ekuitas yang signifikan. Total ekuitas per 30 September 2024 mencapai Rp17,28 miliar, melonjak dari Rp5,97 miliar pada akhir tahun 2023. Perusahaan juga berhasil mengurangi defisitnya dari Rp429,42 miliar pada akhir 2023 menjadi Rp418,53 miliar.

    Di sisi lain, liabilitas perusahaan menurun menjadi Rp543,95 miliar dari Rp561,76 miliar pada akhir tahun lalu. Meski demikian, total aset perusahaan sedikit menyusut menjadi Rp561,23 miliar dari Rp567,73 miliar.

    Hasil positif ini menunjukkan bahwa CLAY mampu menghadapi tantangan di tengah kenaikan beban usaha dan penurunan pendapatan lain-lain. Dengan strategi pengelolaan keuangan yang lebih efisien, perusahaan menunjukkan peningkatan performa yang signifikan, memberikan optimisme terhadap potensi pertumbuhan di masa mendatang.

    Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam pengelolaan liabilitas dan aset yang masih menunjukkan penurunan. Manajemen perlu terus fokus pada efisiensi operasional serta strategi pengembangan usaha agar kinerja positif ini berkelanjutan dan mampu memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham. Dengan capaian spektakuler ini, CLAY berhasil membuktikan diri sebagai pemain yang tangguh di sektor properti dan realty Indonesia.

    Fundamental CLAY

    Bagi investor yang ingin merapat dan mengoleksi saham CLAY, ada baiknya melihat fundamentalnya terlebih dulu. Mengutip data Stockbit, Minggu, 1 Desember 2024, kinerja CLAY tahun ini menunjukkan pertumbuhan laba yang luar biasa.

    Pada kuartal ketiga 2024, CLAY mencatatkan laba bersih sebesar Rp12 miliar, meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan juga tumbuh 20,71 persen YoY, dengan margin laba bersih mencapai 15,11 persen. Ini menunjukkan CLAY memiliki kemampuan untuk meningkatkan efisiensi operasionalnya meskipun menghadapi tekanan di beberapa lini.

    Namun, solvabilitas perusahaan menjadi perhatian utama. Dengan debt-to-equity ratio mencapai 50,86 persen dan current ratio sebesar 0,25, CLAY terlihat sangat bergantung pada utang untuk menjalankan operasionalnya. Altman Z-Score yang negatif (-1,06) juga menunjukkan risiko kebangkrutan yang signifikan.

    Meskipun demikian, perusahaan masih mampu menghasilkan arus kas operasi yang positif sebesar Rp58 miliar dalam 12 bulan terakhir, dengan free cash flow Rp45 miliar, yang merupakan indikator stabilitas arus kas.

    Valuasi dan Prospek

    Valuasi saham CLAY saat ini tampak cukup mahal. Price-to-book ratio sebesar 40,55 jauh di atas rata-rata industri, menunjukkan bahwa harga sahamnya telah mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang tinggi. Sementara, Price-to-earnings ratio TTM sebesar 48,58 juga lebih tinggi dibandingkan median IHSG yang berada di 7,14. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa saham ini diperdagangkan pada premium yang signifikan.

    Meskipun begitu, earnings yield 2,06 persen menunjukkan bahwa saham ini masih memiliki kemampuan untuk menghasilkan laba, meski kurang menarik dibandingkan opsi investasi lainnya. PEG ratio yang berada di angka 1,16 masih dalam kategori wajar untuk saham pertumbuhan, tetapi nilai ini tidak mencerminkan margin keamanan yang besar, salah satu prinsip penting Buffett.

    Manajemen dan Prospek Jangka Panjang

    Manajemen CLAY telah menunjukkan kemampuan untuk membalikkan kinerja perusahaan dari kerugian bertahun-tahun menjadi laba bersih dalam beberapa kuartal terakhir. Return on equity (ROE) yang tinggi sebesar 83,46 persen menunjukkan bahwa manajemen mampu mengelola modal secara efisien.

    Namun, risiko tinggi akibat tingginya utang menjadi faktor yang harus diperhatikan, terutama jika terjadi perubahan kondisi makroekonomi atau kenaikan suku bunga.

    Secara prospek, industri properti dan realty Indonesia masih memiliki peluang tumbuh, terutama dengan dorongan pemerintah pada sektor infrastruktur dan urbanisasi. CLAY dapat memanfaatkan peluang ini, tetapi keberlanjutan pertumbuhan laba tetap menjadi tantangan jika tidak diimbangi dengan perbaikan struktur keuangan.

    Rekomendasi Warren Buffett

    Berdasarkan analisis ini, saham CLAY tidak cocok bagi investor konservatif yang mengedepankan margin keamanan tinggi seperti yang sering ditekankan Warren Buffett. Risiko tinggi dari struktur utangnya, valuasi yang mahal, dan Z-Score negatif menunjukkan bahwa saham ini lebih cocok untuk investor yang bersedia mengambil risiko dengan harapan pertumbuhan jangka pendek atau menengah.

    Namun, bagi investor yang berfokus pada pertumbuhan laba dan memiliki toleransi risiko tinggi, CLAY bisa menjadi pilihan menarik. Perusahaan ini telah menunjukkan potensi turnaround dengan kinerja yang membaik secara signifikan.

    Untuk 2025, keputusan investasi pada CLAY sebaiknya didasarkan pada penilaian lebih lanjut terhadap strategi perusahaan dalam mengurangi beban utang dan mempertahankan pertumbuhan laba yang konsisten. Jika perusahaan berhasil memperbaiki fundamentalnya, saham ini dapat menjadi kandidat investasi yang lebih menjanjikan di masa depan.(*)

    Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak, membeli, atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analisis atau sekuritas yang bersangkutan, dan  Kabarbursa.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian investasi yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Yunila Wati

    Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

    Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

    Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79