KABARBURSA.COM - Di saat pasar modal global masih diliputi ketidakpastian, dan tensi geopolitik dunia belum benar-benar mereda, langkah mengejutkan datang dari JP Morgan Chase & Co.
Bank investasi raksasa asal Amerika Serikat ini kembali menambah porsi kepemilikannya di saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI dalam jumlah signifikan.
Sepanjang kuartal II/2025, JP Morgan memborong lebih dari 117 juta saham BBRI. Aksi ini terbilang cukup mencolok, apalagi mengingat bahwa di kuartal sebelumnya, mereka justru melepas lebih dari 500 juta saham.
Kini, total kepemilikan JP Morgan di saham BBRI tercatat mencapai 1,54 miliar lembar. Pembalikan arah ini memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar, apa yang dilihat JP Morgan di BBRI?
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan, perseroan saat ini tengah mempercepat pelaksanaan program BRIVolution Reignite. Program ini menyasar penguatan berbagai lini bisnis, digitalisasi layanan, manajemen risiko yang lebih ketat, serta pengembangan SDM.
Tujuan besarnya jelas, menjadikan BRI sebagai bank paling menguntungkan di Asia Tenggara pada 2030.
Konsistensi arah ini juga selaras dengan visi pembangunan nasional yang digaungkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam agenda Asta Cita.
BRI, sebagai bank milik negara, tak hanya mengincar pertumbuhan laba, tetapi juga menjalankan peran sebagai agen inklusi keuangan nasional.
Kendati demikian, tantangan tetap ada. Saat ini, BRI sedang menghadapi proses hukum terkait pengadaan mesin EDC periode 2020–2024. Namun, manajemen memastikan komitmen terhadap prinsip tata kelola yang baik tetap dijalankan.
Langkah ini dianggap penting untuk menjaga kredibilitas perusahaan di mata investor, tanpa mengesampingkan aspek hukum yang harus dihormati.
Dari sisi harga saham, BBRI saat ini masih bergerak di level Rp3.700 per lembar (per 1 Juli 2025), setelah terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun. Meski begitu, sentimen analis tetap positif.
Konsensus Bloomberg mencatat 31 analis masih merekomendasikan beli, dengan target harga rata-rata dalam 12 bulan ke depan sebesar Rp4.703,61. Ini artinya, potensi upside BBRI masih terbuka lebar, sekitar 27 persen dari harga saat ini.
Dalam konteks lebih luas, langkah JP Morgan dan dukungan konsensus analis mempertegas satu hal: pasar belum kehilangan keyakinan terhadap BRI.
Dengan fundamental kuat, strategi jangka panjang yang terarah, dan posisi dominan di sektor keuangan mikro, BRI berpeluang besar menjadi katalis pemulihan pasar sekaligus penopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah masa transisi yang belum selesai.
Di tengah turbulensi global dan tekanan domestik, BRI menunjukkan bahwa kepercayaan investor tak datang begitu saja, melainkan dibangun lewat konsistensi, visi jangka panjang, dan eksekusi yang disiplin.
Analisis Teknikal Rekomendasikan Jual?
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI tengah berada dalam tekanan yang cukup dalam di pasar. Jika melihat sinyal dari indikator teknikal per 8 Juli 2025, nyaris semuanya kompak menunjukkan bahwa saham ini masih berada dalam fase penurunan yang cukup kuat.
Para pelaku pasar yang mengandalkan analisis teknikal mungkin akan sepakat: untuk saat ini, BBRI belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah yang meyakinkan.
RSI atau Relative Strength Index tercatat di kisaran 35, yang menandakan bahwa saham mulai memasuki wilayah jenuh jual. Artinya, tekanan turun sudah cukup kuat, tapi belum tentu segera berbalik arah. Indikator lainnya seperti MACD dan Stochastic juga memperkuat pandangan ini.
Keduanya masih memberikan sinyal bearish yang solid, sementara ADX yang tinggi menunjukkan tren penurunan masih punya momentum besar.
Satu hal yang cukup mencolok adalah bahwa tak satu pun dari moving average, baik jangka pendek maupun Panjang, yang memberikan sinyal beli. Semua rata-rata pergerakan harga, mulai dari MA5 hingga MA200, masih menempatkan BBRI dalam tren turun.
Dengan kata lain, tekanan ini bukan hanya sesaat. Ini adalah tekanan yang terakumulasi dari waktu ke waktu.
Harga saham yang kini bergerak di sekitar Rp3.683 pun berada dalam posisi teknikal yang rawan. Support terdekat ada di Rp3.666, dan bila itu tembus, bisa membuka peluang koreksi lebih dalam menuju Rp3.633 atau bahkan Rp3.616.
Sementara jika ada sedikit pantulan, tantangan langsung menanti di kisaran Rp3.716 hingga Rp3.733. Dan dengan kekuatan tren turun yang masih dominan, peluang untuk menembus resistance jangka pendek itu belum terlalu besar.
Lalu, Apa Artinya Semua ini Bagi Investor?
Bagi mereka yang aktif di perdagangan jangka pendek, saat seperti ini jelas bukan waktu ideal untuk masuk. Tidak ada sinyal pembalikan yang cukup kuat untuk mendukung posisi beli. Justru ini adalah saat untuk bersikap waspada, atau bahkan melakukan manajemen risiko bagi yang sudah memiliki posisi sejak harga lebih tinggi.
Tapi cerita bisa berbeda untuk investor jangka panjang. Mereka yang melihat nilai BBRI dari sisi fundamental, dengan aset kuat, basis nasabah luas, dan peran sentral dalam perekonomian nasional, mungkin melihat tekanan harga ini sebagai bagian dari siklus.
Bagi sebagian pelaku pasar, momen seperti ini bahkan bisa menjadi kesempatan menambah kepemilikan, asalkan dilakukan dengan kalkulasi dan disiplin.
Kesimpulannya, BBRI saat ini memang sedang diuji dari sisi teknikal. Meski secara fundamental tetap menjadi bank unggulan, pasar belum sepenuhnya memberi ruang bagi saham ini untuk pulih dalam waktu dekat.
Dan dalam kondisi seperti ini, kehati-hatian dan strategi bertahap jadi kunci untuk tetap waras di tengah volatilitas.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.