Logo
>

Mobil Baru Tak Laku di Maret 2025, Pengamat Bilang Begini

Penjualan mobil baru Maret 2025 turun 5,1 persen, momen Ramadan dan mudik Lebaran tak mampu dongkrak penjualan. Ini alasannya.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Mobil Baru Tak Laku di Maret 2025, Pengamat Bilang Begini
Ilustrasi penjualan mobil baru periode Maret 2025 ambles, Pengamat Otomotif beberkan penyebabnya. (Foto: KabarBursa/Abbas Sandji)

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Penjualan mobil baru periode Maret 2025 tercatat lesu. Padahal satu bulan sebelumnya, penjualan sempat melonjak 16,7 persen atau bertambah 10.363 unit dibanding Januari 2025.

    Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil baru secara wholesales (dari pabrik ke dealer) sepanjang Maret 2025 turun 5,1 persen dibanding bulan yang sama di tahun sebelumnya. Dalam periode tersebut, 70.892 unit mobil baru dari berbagai merek dapat terjual. 

    Sementara pada Maret 2024, terdapat 74.720 unit mobil baru yang berhasil dibeli konsumen di dalam negeri.

    Lalu jika dibanding Februari 2025, penjualan per Maret tahun ini telah turun 2 persen. Sebab di bulan kedua tahun 2025, sebanyak 72.336 unit mampu diboyong konsumen.

    Untuk retail sales (dari dealer ke konsumen) per Maret 2025, meraup penjualan sebanyak 76.582 unit, atau terjadi koreksi sebesar 6,8 persen dibanding Maret tahun lalu yang meraih angka penjualan 82.170 unit.

    Pengamat Otomotif, Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, turunnya penjualan mobil baru secara nasional menunjukkan pelemahan ekonomi sebagai imbas penurunan daya beli. Terlebih mobil baru tidak tergolong sebagai kebutuhan primer yang lebih diutamakan masyarakat.

    "Tekanan dari pelemahan ekonomi makro tampaknya semakin menguat di pasar otomotif. Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan tren deflasi menunjukkan kehati-hatian konsumen dalam belanja. Mobil, sebagai kebutuhan tersier berbiaya tinggi, akhirnya bukan jadi prioritas dalam situasi ini," ujarnya saat dihubungi KabarBursa.com, Kamis 17 April 2025.

    Situasi ekonomi yang melemah, kata Yannes, membuat semakin banyak masyarakat lebih memilih menabung atau memenuhi kebutuhan pokoknya.

    Selain itu turunnya produktivitas penjualan mobil baru di Indonesia juga disebabkan banyak faktor, terutama dalam hal ketidakpastian kondisi perekonomian.

    "Penurunan penjualan mobil pada Maret 2025 juga dipengaruhi oleh kombinasi faktor lain seperti daya beli yang melemah akibat deflasi, maraknya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), perlambatan ekonomi, pelemahan rupiah yang membuat harga cenderung naik, suku bunga yang relatif tinggi, dan penyusutan kelas menengah sebagai kelompok terbesar konsumen mobil baru Indonesia," terang Akademisi dari Institut Teknologi Bandung tersebut.

    Bulan Maret lalu yang diisi oleh Ramadan hingga musim mudik Lebaran juga tidak mampu mengerek pertumbuhan penjualan di industri otomotif roda empat domestik.

    Yannes menyebutkan, konsumen telah memanfaatkan pembelian kendaraan pada jauh-jauh hari sebelum musim mudik Lebaran. Misalnya melalui berbagai pameran otomotif yang berlangsung sebelum Maret tahun ini.

    "Jumlah pemudik tahun ini turun 24,34 persen. Hal itu jelas mencerminkan sudah terjadi tekanan konsumsi menjelang Lebaran. Selain itu, antusiasme pasar yang masih memiliki tabungan untuk membeli mobil baru, telah terserap di berbagai pameran otomotif besar seperti GIIAS, IMX, dan IIMS yang digelar sejak akhir 2024 hingga sebulan sebelum lebaran," ucapnya.

    "Jadi tampaknya, kelompok terbesar konsumen di middle income class yang tersisa kini menunggu kepastian ekonomi sebelum membuat keputusan besar seperti membeli mobil baru," lanjut Yannes.

    Pasar Otomotif Indonesia Loyo, Sinyal Merah Investasi di 2025?

    industri otomotif nasional mulai “batuk-batuk”. Data terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa penjualan mobil pada Maret 2025 anjlok 5,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 70.892 unit, dibandingkan Maret 2024 yang masih berada di 74.720 unit.

    Yang bikin alis makin berkerut adalah penjualan bulan Maret ini juga 2 persen lebih rendah dibandingkan Februari 2025 yang mencatatkan 72.336 unit. Padahal, biasanya menjelang Idulfitri, showroom mobil ramai didatangi pembeli. Tapi kali ini faktanya lain.

    Biasanya pada kuartal pertama, terutama bulan Maret hingga awal April, jadi momentum emas bagi industri otomotif karena berdekatan dengan Ramadan dan Idulfitri. 

    Tapi tahun ini, efek ”booster” itu gagal total. Total penjualan mobil kuartal pertama 2025 hanya 205.160 unit, turun 4,7 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebanyak 215.267 unit. Bahkan dibandingkan triwulan I 2023 yang tembus 282.601 unit, angka tahun ini sudah turun hampir 27 persen hanya dalam dua tahun.

    Rinciannya juga bikin geleng kepala, yaitu 69.619 unit di Januari, 72.336 unit di Februari, dan di Maret sebanyak 70.892 unit. Artinya, tak ada lonjakan signifikan di bulan Maret, meskipun biasanya jadi titik awal lonjakan menjelang mudik. Bahkan, penjualan Maret lebih rendah dari Februari, padahal biasanya ada lonjakan 10–20 persen di bulan ini.

    Ini memperpanjang tren negatif sejak 2024, di mana total penjualan mobil cuma tembus 865.000 unit, meleset dari target Gaikindo yang mematok angka 900.000 unit. Momentum musiman yang dulu jadi senjata pamungkas, kini tak lagi mujarab. Ini sinyal keras bahwa struktur permintaan sedang bergeser dan pasar butuh pendekatan baru.

    Masalahnya bukan di suplai, tapi dari permintaan. Daya beli masyarakat masih lemas, terutama kelas menengah ke bawah. Berdasarkan survei Indeks Penjualan Riil (IPR) Bank Indonesia, sektor kendaraan bermotor dan suku cadang malah terkontraksi dibandingkan triwulan I 2024. Inflasi dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi bikin konsumen berpikir dua kali sebelum mengambil cicilan mobil baru.

    Januari 2025 jadi titik balik ke bawah. IPR turun tajam ke 211,5, kontraksi 4,7 persen (month to month/mtm) setelah sebelumnya naik 5,9 persen di Desember 2024 (efek belanja akhir tahun dan Nataru). Kontraksi ini nyaris merata di semua produk, kecuali suku cadang dan aksesori, yang tetap tahan banting.

    Secara tahunan (yoy), penjualan eceran Januari 2025 cuma tumbuh 0,5 persen, lebih lemah dari Desember 2024 yang sempat tumbuh 1,8 persen. Ini mengonfirmasi bahwa pemulihan daya beli masih setengah hati. Bulan Februari 2025 memang ada sedikit peningkatan IPR sebesar 3,3 persen (mtm), tapi pendorongnya bukan mobil, melainkan sandang, BBM, dan barang budaya, indikasi persiapan jelang Ramadan, bukan tren konsumtif jangka panjang.

    Masalah lain yang makin bikin pusing pabrikan adalah nilai tukar rupiah yang terus bergoyang. Hingga 16 April 2025, rupiah tercatat di level Rp16.845,4 per dolar Amerika Serikat (AS), naik tipis 0,14 persen dari hari sebelumnya, tapi masih tinggi dibanding akhir Maret di Rp16.555.

    Fluktuasi ini jadi mimpi buruk buat industri otomotif yang masih tergantung pada komponen impor, terutama yang masih pakai skema semi-CKD (completely knocked down). Mesin, transmisi, sampai chip mobil masih banyak yang dikapalkan dari luar negeri. Kurs naik, biaya naik, harga jual naik, dan konsumen kabur.

    Ironisnya, dari sisi kapasitas produksi, pabrikan otomotif sebenarnya siap tempur. Utilisasi pabrik domestik masih di angka 50–60 persen per akhir 2024, artinya, masih banyak “ruang kosong” yang bisa digarap. Tapi ini akan percuma kalau permintaan dari konsumen justru jalan di tempat.

    Pemerintah pun belum kasih "pemanis" yang cukup. Insentif pembelian kendaraan, baik ICE maupun electric vehicle (EV), masih minim, padahal bisa jadi tuas yang ampuh buat dorong konsumsi. 

    Pemerintah cuma mengembangkan insentif pajak yang lebih baik melalui PPnBM DTP (Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah) untuk EV, serta beberapa kebijakan lain yang mendorong ekosistem kendaraan listrik. Selain itu, penurunan harga baterai EV diperkirakan akan menekan harga jual mobil listrik di tahun-tahun mendatang.

    Di sisi lain, transisi ke kendaraan listrik (EV) makin gencar di tingkat global. Tapi di Indonesia, ekosistem EV masih “prematur”. Pabrik boleh siap produksi, tapi harga EV masih mahal, insentif minim, charging station belum merata, dan konsumen belum yakin soal purnajualnya.

    Efek dominonya jelas: sektor komponen otomotif, khususnya yang berbasis ICE (internal combustion engine), makin rentan. Kalau tak cepat pivot ke komponen EV atau hybrid, bisa tergilas arus perubahan teknologi yang makin cepat. (*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Harun Rasyid

    Vestibulum sagittis feugiat mauris, in fringilla diam eleifend nec. Vivamus luctus erat elit, at facilisis purus dictum nec. Nulla non nulla eget erat iaculis pretium. Curabitur nec rutrum felis, eget auctor erat. In pulvinar tortor finibus magna consequat, id ornare arcu tincidunt. Proin interdum augue vitae nibh ornare, molestie dignissim est sagittis. Donec ullamcorper ipsum et congue luctus. Etiam malesuada eleifend ullamcorper. Sed ac nulla magna. Sed leo nisl, fermentum id augue non, accumsan rhoncus arcu. Sed scelerisque odio ut lacus sodales varius sit amet sit amet nibh. Nunc iaculis mattis fringilla. Donec in efficitur mauris, a congue felis.