KABARBURSA.COM - Kinerja PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) sepanjang Tahun Buku 2025 memperlihatkan kontras antara pertumbuhan penjualan dan pelebaran kerugian.
Emiten pengelola Hypermart ini mencatat rugi periode berjalan sebesar Rp152,19 miliar, meningkat 28,8 persen dibandingkan rugi bersih 2024 yang sebesar Rp118,11 miliar.
Dari sisi pendapatan, MPPA membukukan penjualan bersih Rp7,25 triliun pada 2025, naik 1,9 persen dibandingkan Rp7,11 triliun pada 2024. Laba kotor juga meningkat 2,8 persen secara tahunan menjadi Rp1,26 triliun dari Rp1,23 triliun. Kenaikan ini menunjukkan stabilitas permintaan serta perbaikan bauran produk.
Namun tekanan terlihat pada level operasional dan non-operasional. Laba operasi 2025 tercatat Rp26,08 miliar, turun 23,1 persen dibandingkan Rp33,92 miliar pada 2024.
Secara kuartalan, data menunjukkan laba usaha bergerak fluktuatif sepanjang 2025, dengan Q1 mencatat rugi usaha Rp13 miliar, Q2 rugi Rp8 miliar, dan Q3 rugi Rp28 miliar. Pola ini mengindikasikan margin operasional yang tipis dan belum stabil sepanjang tahun.
Pada level laba bersih kuartalan, MPPA membukukan rugi Rp22 miliar pada Q1 2025, Rp37 miliar pada Q2, dan Rp33 miliar pada Q3. Jika dibandingkan dengan periode yang sama 2024, Q2 2024 mencatat rugi Rp27 miliar dan Q3 2024 rugi Rp35 miliar.
Artinya, meskipun terdapat pertumbuhan penjualan tahunan, perbaikan profitabilitas belum konsisten pada fase kuartalan.
Tumbuh di Kuartal Pertama, Anjlok di Kuartal Kedua
Momen Ramadan dan Idul Fitri yang umumnya berlangsung pada kuartal pertama atau kedua belum tercermin dalam lonjakan signifikan kinerja kuartalan 2025. Q1 2025 mencatat total pendapatan Rp2,108 triliun, lebih tinggi dibanding Q1 2024 sebesar Rp1,677 triliun.
Namun pada Q2 2025 pendapatan turun menjadi Rp1,665 triliun, dan Q3 2025 sebesar Rp1,701 triliun. Kenaikan musiman pada awal tahun tidak sepenuhnya mengimbangi tekanan beban serta investasi operasional.
Dari sisi rasio, Return on Equity kuartalan berada di level negatif sepanjang 2025, yakni minus 17,43 persen pada Q1, minus 39,98 persen pada Q2, dan minus 56,42 persen pada Q3. Interest coverage ratio juga negatif pada sebagian besar kuartal 2025, menandakan laba operasional belum cukup untuk menutup beban bunga secara konsisten.
EBITDA kuartalan menunjukkan tren penurunan dari Rp79,41 miliar pada Q1 2025 menjadi Rp67,73 miliar di Q2 dan Rp51,49 miliar pada Q3. Pola ini menggambarkan tekanan terhadap arus kas operasional meski penjualan relatif stabil.
Manajemen menyebut beban non-operasional sebagai pemicu utama meningkatnya kerugian. Pada laporan keuangan kuar,talan, pos penghasilan atau beban lain-lain juga mencatat nilai negatif, termasuk Rp24 miliar pada Q2 2025 dan Rp3 miliar pada Q3 2025.
Kombinasi penurunan laba usaha dan tekanan non-operasional memperlebar rugi bersih.
Secara keseluruhan, data 2025 menunjukkan pertumbuhan top line yang moderat belum diikuti penguatan bottom line. Momentum musiman seperti Ramadan dan Idul Fitri tercermin pada kenaikan pendapatan awal tahun, namun belum cukup untuk menghasilkan perbaikan profitabilitas tahunan.
Struktur biaya, investasi pada inisiatif operasional, serta beban non-operasional menjadi variabel utama yang membentuk hasil akhir tahun buku.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.