Logo
>

LION Catatkan Penjualan Melemah, Siapkan Digitalisasi dan Capex Rp5 Miliar

Pendapatan kuartal III 2025 turun ke Rp67 miliar, rugi bersih berlanjut, LION proyeksikan pendapatan 2026 Rp468 miliar dan siapkan capex Rp2–5 miliar untuk modernisasi.

Ditulis oleh Yunila Wati
LION Catatkan Penjualan Melemah, Siapkan Digitalisasi dan Capex Rp5 Miliar
LION catatkan penjualan yang melemah. (Foto: Dok Lion Metal)

KABARBURSA.COM - PT Lion Metal Works Tbk (LION) baru saja menggelar Public Expose pada 13 Februari 2026. Dalam forum tersebut, manajemen penyampaikan bahwa telah terjadi penurunan penjualan akibat melemahnya harga dan meningkatnya persaingan, khususnya dari produk asal China. Selain tekanan kompetisi, fluktuasi harga bahan baku baja turut mempengaruhi margin usaha.

Pada 2024, perseroan sebenarnya telah memperoleh pesanan produk cable ladder yang mendukung kinerja penjualan. Namun pada 2025, penjualan produk tersebut mengalami penurunan sehingga berdampak pada omzet.

Walaupun terdapat catatan buruk pada penjualan, untuk 2026, LION memproyeksikan pendapatan sebesar Rp468 miliar dengan laba bersih Rp20,8 miliar. Pertumbuhan kinerja ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan domestik.

Fokus utamanya adalah menjaga margin keuntungan di tengah fluktuasi harga baja serta kenaikan tarif PPN. Strategi sendiri diarahkan pada efisiensi biaya dan optimalisasi lini produksi.

Strategi Operasional

Untuk strategi operasional, dilakukan pada tiga divisi utama, yakni Cable Ladder, Fire Door, serta Racking dengan sistem dua arah dan empat arah. Pendekatan ini ditujukan sebagai efisiensi anggaran dan peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi yang lebih tinggi.

Pada lini racking, perseroan akan mengimplementasikan sistem otomatis dan menjalin kerja sama dengan mitra dari China. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi produksi serta menekan biaya operasional.

Selain itu, efisiensi biaya produksi dan penguatan rantai pasok menjadi fokus menghadapi tantangan industri jasa perindustrian tahun ini.

Dengan strategi seperti itu, LION mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp2 miliar hingga Rp5 miliar. Dana tersebut difokuskan untuk digitalisasi lini produksi melalui pembelian mesin laser cutting dan pengelasan robotik otomatis.

Modernisasi ini ditujukan untuk meningkatkan output produksi dan menekan biaya tenaga kerja dalam jangka panjang.

Dan terkait rencana penjualan lahan, PT Singa Purwakarta Jaya tetap berupaya menjual tanah di Purwakarta sesuai harga pasaran. Luas lahan di Kawasan Industri Lion disebut sekitar 100 hektare. Investasi di Purwakarta ini diperlukan untuk pengembangan infrastruktur jalan dan fasilitas pendukung lainnya. Timeline penjualan lahan disesuaikan dengan kondisi pasar.

Kinerja Keuangan, Likuiditas dan Struktur Aset

Untuk saat ini, Manajemen menegaskan bahwa perseroan tidak mengalami masalah likuiditas maupun kesulitan arus kas, meskipun terjadi penurunan total aset dan total liabilitas.

Penurunan aset secara tahunan disebut dipengaruhi oleh turunnya liabilitas serta adanya pembayaran dividen. Dengan demikian, perubahan struktur neraca tidak dikaitkan dengan tekanan likuiditas operasional.

Sementara, kinerja keuangan PT Lion Metal Works Tbk (LION) sepanjang 2025 menunjukkan tekanan pada sisi pendapatan, margin, serta laba bersih, sejalan dengan dinamika industri dan fluktuasi harga bahan baku.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2025, total pendapatan tercatat Rp67 miliar, turun dibanding kuartal II 2025 sebesar Rp81 miliar dan kuartal I 2025 sebesar Rp95 miliar. Secara tahunan, posisi ini juga lebih rendah dibanding kuartal IV 2024 yang mencapai Rp132 miliar dan kuartal III 2024 sebesar Rp75 miliar.

Penurunan pendapatan diikuti tekanan pada laba kotor. Pada kuartal III 2025, laba kotor tercatat Rp17 miliar, lebih rendah dari Rp24 miliar pada kuartal II 2025 dan jauh di bawah Rp51 miliar pada kuartal IV 2024. Beban pokok penjualan pada kuartal III 2025 tercatat Rp50 miliar, sementara total beban usaha mencapai Rp23 miliar.

Dari sisi operasional, LION membukukan rugi usaha Rp5 miliar pada kuartal III 2025, setelah rugi Rp1 miliar pada kuartal II 2025 dan rugi Rp27 miliar pada kuartal I 2025. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, kuartal IV 2024 mencatat laba usaha Rp12 miliar dan kuartal III 2024 sebesar Rp4 miliar.

Laba sebelum pajak pada kuartal III 2025 tercatat rugi Rp3 miliar, dengan laba bersih tahun berjalan juga rugi Rp3 miliar. Sebagai perbandingan, kuartal IV 2024 masih mencatat laba bersih Rp8 miliar dan kuartal III 2024 sebesar Rp4 miliar. Secara kumulatif sepanjang tiga kuartal pertama 2025, perseroan mencatat rugi bersih berturut-turut sebesar Rp16 miliar pada kuartal I, Rp6 miliar pada kuartal II, dan Rp3 miliar pada kuartal III.

Dari sisi rasio, EPS kuartal III 2025 tercatat minus 6,34 dengan PE ratio kuartalan negatif 107,26. EBITDA kuartal III 2025 berada pada posisi negatif Rp3,23 miliar, berbalik dari posisi positif Rp13,92 miliar pada kuartal IV 2024. Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE) kuartal III 2025 masing-masing minus 0,54 persen dan minus 0,70 persen.

Interest coverage ratio kuartal III 2025 berada di minus 9,51, mencerminkan laba operasional yang belum mampu menutup beban bunga. Share outstanding tercatat stabil di kisaran 0,52 miliar saham.

Pada sisi pasar, saham LION ditutup di level Rp520, turun Rp35 atau minus 6,31 persen dalam satu hari perdagangan terakhir. Dalam sepekan, saham terkoreksi 26,76 persen. Namun secara satu bulan, harga saham mencatat kenaikan 17,65 persen.

Pergerakan Saham LION

Pada sesi perdagangan terakhir, Jumat, 13 Februari 2026, harga dibuka di Rp520 dengan harga tertinggi Rp520 dan terendah Rp482. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp1,3 miliar dengan volume 26,62 ribu lot dan rata-rata harga Rp499 per saham.

Secara keseluruhan, kinerja keuangan LION pada 2025 menunjukkan tekanan pada pendapatan dan laba, dengan beberapa kuartal berturut-turut mencatat rugi bersih. Pergerakan saham memperlihatkan volatilitas tinggi dalam jangka pendek, dengan koreksi mingguan signifikan namun masih mencatat penguatan dalam periode satu bulan terakhir.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79