KABARBURSA.COM – Bursa saham global bergerak melemah pada Jumat, 5 Juli 2025, sementara indeks di Wall Street justru terus menanjak ke rekor tertinggi. Pasar bersiap menghadapi tenggat waktu 9 Juli yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kebijakan tarif baru.
Di Eropa, indeks DAX Jerman tergelincir 0,8 persen ke posisi 23.730,61, sementara CAC 40 Paris turun lebih dalam 1,1 persen ke level 7.666,91. Indeks FTSE 100 di London ikut melemah 0,4 persen ke 8.790,21. Kontrak berjangka S&P 500 dan Dow Jones masing-masing terkoreksi 0,5 persen.
Dari Asia, suasana pasar tak kalah gamang. Nikkei 225 Jepang sempat jatuh di awal sesi, tapi berhasil pulih tipis dan ditutup naik 0,1 persen ke 39.810,88. Sebaliknya, KOSPI Korea Selatan rontok 2 persen ke 3.054,28.
Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,6 persen ke 23.916,06. Sementara itu, Shanghai Composite berhasil menguat 0,3 persen ke 3.472,32. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,1 persen ke 8.603,00, sedangkan Sensex India turun 0,1 persen ke 83.148,45.
“Pasar Asia masuk ke Jumat seperti orang yang menyusuri gang gelap dengan satu mata menengok ke belakang,” tulis Stephen Innes, mitra pengelola SPI Asset Management, dikutip dari AP di Jakarta, Sabtu, 5 Juli 2025.
Ia menggambarkan suasana pasar Asia yang muram, bertolak belakang dengan reli Wall Street yang masih terpengaruh data ketenagakerjaan AS yang positif.
“Pemicunya jelas: kegelisahan lama yang selalu muncul setiap kali Trump mendekati tombol tarif,” ujarnya.
Bank Mizuho memperkirakan surat pemberitahuan tarif bisa dikirim Trump ke sejumlah negara mulai hari ini. Pasar pun diminta bersiap menghadapi potensi volatilitas lanjutan.
Pada Kamis sebelumnya, laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang jauh lebih kuat dari ekspektasi. S&P 500 melonjak 0,8 persen dan mencetak rekor keempat dalam lima hari terakhir. Dow Jones Industrial Average naik 344 poin atau 0,8 persen, sedangkan Nasdaq Composite terkerek 1 persen.
Sejauh ini, sebagian besar tarif impor yang diusulkan Trump masih dalam status tertunda. Namun, jika tidak ada kesepakatan baru dengan mitra dagang utama, beban tarif tersebut akan mulai diberlakukan minggu depan.
Sementara itu, harga minyak juga ikut melemah. Minyak WTI turun 45 sen ke level USD66,55 per barel (sekitar Rp1,077 juta), sedangkan Brent, patokan global, melemah 53 sen ke USD68,27 per barel (sekitar Rp1,106 juta).
Di pasar valuta, dolar AS merosot ke posisi 144,34 yen Jepang, dari sebelumnya 144,92. Euro sedikit menguat ke USD1,1773 (sekitar Rp19.080) dari posisi sebelumnya USD1,1761.(*)