Logo
>

Paus Fransiskus dan Ekonomi Baru: Menempatkan Manusia dan Lingkungan di Atas Keuntungan

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Paus Fransiskus dan Ekonomi Baru: Menempatkan Manusia dan Lingkungan di Atas Keuntungan

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia selama 3 sampai 6 September 2024, membawa momentum bagi Indonesia untuk merefleksikan kehidupan sosial, politik, hingga ekonomi. Fransiskus telah lama dikenal sebagai tokoh yang memberikan perhatian serius terhadap isu-isu sosial dan lingkungan.

    Dalam dokumen “Ekonomi Fransiskus” yang diterbitkan setelah pertemuan Economy of Francesco di Assisi pada November 2020, Paus Fransiskus mengajak seluruh dunia, terutama kaum muda, untuk memikirkan ulang sistem ekonomi global yang berpusat pada keuntungan dan seringkali mengabaikan manusia serta lingkungan.

    Selama kunjungannya di Indonesia, Paus Fransiskus tak hanya menarik perhatian publik dengan kesederhanaannya, tetapi juga melalui pandangannya tentang ekonomi yang manusiawi. Pemikiran ekonominya yang progresif tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dalam pengertian tradisional, tetapi juga menekankan pentingnya memperhatikan aspek kemanusiaan dan keberlanjutan.

    Dalam salah satu bagian penting dari dokumen tersebut, Paus Fransiskus mengkritik keras praktik ekonomi yang hanya berfokus pada keuntungan tanpa mempedulikan dampaknya terhadap manusia dan lingkungan. Ia menyebut ekonomi yang hanya melayani segelintir kelompok kecil di masyarakat, dengan mengesampingkan mereka yang miskin dan kurang beruntung, adalah ekonomi yang tidak adil.

    “Mereka seakan kelompok istimewa dalam masyarakat sehingga merasa berhak menentukan segalanya, bahkan nasib orang lain. Ekonomi ‘tetesan ke bawah’ tidak dipercayainya karena terbukti tidak pernah terjadi,” tulis Fransiskus dalam halaman 5 dokumen tersebut.

    Pandangan kritis ini selaras dengan pesan-pesan yang selalu ia sampaikan dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam ensiklik Laudato Si, di mana Paus menegaskan bahwa ekonomi harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial.

    Ekonomi Untuk Keadilan Sosial dan Lingkungan

    Salah satu aspek utama yang diangkat dalam dokumen ini adalah bagaimana ekonomi yang adil harus menjawab persoalan kemiskinan, ketimpangan, dan kerusakan lingkungan. Paus Fransiskus mengajak para ekonom, wirausahawan, dan pengambil kebijakan untuk mengubah paradigma ekonomi yang semata-mata berfokus pada efisiensi teknokratis dan produktivitas. Ia menekankan bahwa “setiap program yang ditujukan untuk meningkatkan produktivitas hendaknya diarahkan bagi pelayanan kepada pribadi manusia,” bunyi pesan Paus Fransiskus pada halaman 9 dokumen tersebut.

    Paus Fransiskus juga memberikan peringatan ekonomi yang tidak mempedulikan lingkungan akan membawa kerugian besar bagi umat manusia. Ia mengutip kisah Orang Samaria yang Murah Hati sebagai model ekonomi baru yang peduli pada lingkungan dan masyarakat yang rentan. Dalam model ini, manusia harus menjadi pusat perhatian, dan kebijakan ekonomi harus berfokus pada penghapusan diskriminasi serta kesenjangan sosial.

     

    Klik Halaman Selanjutnya...

    Panggilan Kepada Kaum Muda

    Paus Fransiskus memandang kaum muda memiliki peran penting dalam membawa perubahan ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan. Dalam dokumen ini, ia menyebut generasi muda adalah harapan masa kini dan masa depan yang akan membangun tatanan ekonomi baru. “Kaum muda adalah nabi, karena hidupnya menyiratkan dan menyuarakan harapan dan janji,” tulis Paus dalam halaman 8.

    Dalam pertemuan di Assisi, Paus juga mengajak kaum muda untuk terlibat aktif dalam merumuskan narasi ekonomi baru. Mereka diminta untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga menjadi agen perubahan yang proaktif dalam memperjuangkan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Seruan ini disampaikan dengan penuh harapan bahwa generasi muda akan mampu memimpin transformasi ekonomi global yang lebih manusiawi dan adil.

    Dalam bagian lain dokumen ini, Paus Fransiskus memperkenalkan konsep “ekonomi persaudaraan” yang menekankan pentingnya solidaritas antarumat manusia. Ia berpendapat ekonomi tidak boleh menjadi arena persaingan yang tak berkesudahan, melainkan harus menjadi sarana untuk membangun relasi yang lebih harmonis antara manusia, lingkungan, dan masyarakat.

    Paus menyoroti pentingnya budaya perjumpaan, di mana setiap orang, termasuk mereka yang miskin dan tersisih, diberikan tempat dan suara dalam pembuatan keputusan ekonomi. “Keseluruhan lebih besar daripada bagian-bagian dan keseluruhan itu bukanlah kumpulan sejumlah kepentingan-kepentingan individual,” tulis Paus dalam halaman 9. Di sini, Paus Fransiskus menekankan kemajuan ekonomi haruslah mencakup kepentingan semua pihak, bukan hanya segelintir kelompok.

    Relevansi bagi Indonesia

    Pandangan ekonomi Paus Fransiskus sangat relevan dengan situasi di Indonesia, di mana ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan masih menjadi isu yang mendesak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia (rasio gini) pada Maret 2024 adalah 0,379.

    Angka ini merupakan yang terendah dalam satu dekade terakhir dan berada di bawah level prapandemi. Beberapa faktor yang dapat mendorong ketimpangan pendapatan di Indonesia, antara lain: Inflasi, Pengangguran, Kemiskinan, dan Kebijakan fiskal.

    Indonesia juga telah lama mendera kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang tak ada habisnya. Beberapa isu lingkungan yang menjadi perhatian masyarakat sipil seperti, Greenpeace Indonesia, di antaranya: Terkikisnya hutan Indonesia, Terumbu karang dan laut Indonesia, plastik dan ketergantungan manusia, energi kotor dan polusi udara.

    Tak hanya itu, berbagai proyek pemerintah yang masuk dalam kategori Proyek Startegis Nasional atau PSN juga berkontribusi terhadap kerusakan alam. Satu dekade terakhir pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi menandai era percepatan pembangunan melalui PSN, namun tak lepas dari kontroversi perihal dampak lingkungan. Berdasarkan data Greenpeace, dari 233 unit PSN yang mencakup 218 proyek dan 15 program, terdapat sejumlah besar kerusakan lingkungan yang terjadi akibat aktivitas pembangunan tersebut.

    Luas tutupan hutan yang hilang selama periode 2014 hingga 2023 tercatat mencapai 4,37 juta hektare, setara dengan sepertiga luas Pulau Jawa. Hilangnya tutupan hutan ini sebagian besar dipicu oleh PSN, yang menyebabkan deforestasi seluas 155 ribu hektare atau setara dengan luas kali Ciliwung sebanyak dua setengah kali.

    Konflik Agraria Secara Masif

    Kondisi ini diperburuk dengan fakta bahwa PSN telah memicu konflik agraria secara masif. Sepanjang 2020 hingga 2023, tercatat terjadi 111 kali letusan konflik, dengan 499 ribu hektare lahan masuk dalam konflik agraria akibat PSN. Konflik-konflik ini berdampak langsung pada 82,5 ribu keluarga yang hidupnya terganggu karena sengketa tanah yang berujung pada penggusuran atau kehilangan lahan.

    Dampak kerusakan ini menimbulkan keprihatinan luas, karena selain merusak ekosistem hutan dan lingkungan hidup, proyek-proyek besar ini juga menyingkirkan masyarakat lokal yang terdampak langsung oleh proyek-proyek pembangunan tersebut. Kondisi ini mirip dengan apa yang disebut oleh Paus Fransiskus dalam dokumen Evangelii Gaudium halaman 38 sebagai “model ekonomi yang membunuh.” Menurut Paus, ciri utama ekonomi membunuh adalah adanya pengucilan dan ketidaksetaraan di antara kelompok-kelompok sosial.

    Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang, bisa mengambil banyak pelajaran dari seruan Paus untuk menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

    Kunjungan Paus ke Indonesia, yang berlangsung dari 4 hari terakhir menjadi momen penting bagi refleksi nasional tentang bagaimana negara ini dapat membangun sistem ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Dalam berbagai kesempatan, Paus terus menekankan pentingnya keadilan sosial dan perhatian terhadap kaum miskin, sebuah pesan yang seharusnya diresapi oleh semua pemangku kebijakan di Indonesia.

    Paus Fransiskus menawarkan sebuah visi yang jelas: ekonomi yang manusiawi, yang menempatkan martabat manusia dan keberlanjutan lingkungan di atas segala bentuk keuntungan.

    “Ekonomi yang hanya berfokus pada pertumbuhan tanpa kepedulian pada lingkungan dan orang miskin tidak akan membawa perkembangan sejati,” tulis Paus Fransiskus. Pesan ini memberi arahan yang sangat relevan bagi Indonesia dalam upayanya menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).