Logo
>

Prospek Emiten Ritel Masih Solid: Siapa yang Paling Siap?

Beberapa emiten seperti AMRT, ERAA dan MDIY mencatatkan kinerja positif di kuartal pertama 2025. Ketiganya tampak mantap dan memiliki peluang positif di kuartal berikutnya.

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Prospek Emiten Ritel Masih Solid: Siapa yang Paling Siap?
Ilustrasi sektor emiten ritel Indonesia dan peluang pertumbuhannya.

KABARBURSA.COM - Prospek emiten ritel diprediksi masih solid di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dan konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada kuartal I 2025 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4,78 persen. Catatan ini lebih rendah dibanding periode serupa tahun 2024 sebesar 5,11 persen dan kuartal sebelumnya, yakni 5,02 persen.

Tidak hanya pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga mengalami perlambatan. Dalam catatan BPS, pada kuartal I 2025 pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 4,87 persen. Angka itu turun tipis dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 4,91 persen.

Menanggapi ini, Analyst Stocknow.id Abdul Haq Al Faruqy mengatakan, turunnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini tercermin pada konsumsi barang non esensial, seperti pakaian dan alas kaki, yang hanya tumbuh 3,48 persen YoY. Kondisi ini menandakan adanya tekanan signifikan pada segmen ritel discretionary

"Ditambah lagi, tekanan eksternal seperti depresiasi rupiah yang sempat menyentuh Rp16.900 per dolar AS pada April 2025, memperburuk beban impor dan biaya operasional bagi pelaku ritel," kata Abdul kepada KabarBursa.com, Senin, 19 Mei 2025.

Meskipun demikian, Abdul optimistis terhadap pertumbuhan emiten ritel, khususnya di kuartal II 2025. Emiten yang berfokus pada kebutuhan pokok memiliki faktor penopang musiman seperti pergeseran momen belanja Lebaran ke awal April, libur sekolah, serta penyaluran bansos pemerintah (PKH, Kartu Sembako) dan pencairan gaji ke-13 ASN pada Mei dan Juni.

"Itu berpotensi menopang konsumsi domestik. Emiten ritel yang berfokus pada kebutuhan pokok cenderung lebih bertahan dibandingkan dengan yang mengandalkan produk konsumsi sekunder," ungkapnya.

MDIY, AMRT, ERAA Punya Kinerja Positif 

Adapun emiten ritel yang masih bisa mencatatkan kinerja positif pada kuartal I 2025, menurut Abdul, salah satunya adalah PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY). 

Diketahui, emiten yang dikenal dengan nama Mr DIY ini mencatatkan lonjakan pendapatan sebesar 57 persen YoY, menjadi Rp1,8 triliun. Begitu pula dengan laba bersih, naik 160 persen, menjadi Rp226 miliar.

Lalu ada PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Emiten yang dikenal dengan Alfamart ini juga membukukan pertumbuhan pendapatan 10,54 persen YoY, menjadi Rp118,22 triliun, meskipun laba bersih turun 7,5 persen menjadi Rp3,14 triliun. 

Ada juga PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), yang membukukan laba bersih Rp1,03 triliun atau tumbuh 25 persen YoY, dengan penjualan naik 8,54 persen ke Rp65,27 triliun. 

"Katalis kinerja positif ketiganya berasal dari momentum Ramadan dan Lebaran, pencairan THR, serta kemampuan adaptasi dalam mengembangkan jaringan dan efisiensi biaya di tengah tekanan daya beli,” ujar dia.

Untuk saham ritel sendiri, lanjutnya, masih layak dikoleksi untuk jangka menengah. Sebab, ada potensi recovery dan didongkrak gaji ke-13 ASN pada pertengahan tahun ini. 

"Sehingga, saham seperti AMRT dan ERAA berpotensi diuntungkan dalam jangka menengah," pungkasnya. 

Ekonomi RI Tumbuh tapi Rapuh, Apa Sinyal untuk Kuartal II?

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2025 tercatat sebesar 4,87 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kinerja ini ditopang oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mencatat pertumbuhan tertinggi, yaitu 10,52 persen. Namun, di balik angka positif itu, terdapat kontraksi ekonomi sebesar 0,98 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter), yang memunculkan kekhawatiran mengenai ketahanan ekonomi nasional memasuki kuartal II.

Direktur Neraca Produksi BPS Puji Agus Kurniawan, menjelaskan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada Januari–Maret 2025 mencapai Rp5.665,9 triliun, atau Rp3.264,5 triliun berdasarkan harga konstan 2010.

Menurutnya, kontraksi secara kuartalan mencerminkan pelemahan aktivitas domestik akibat rendahnya serapan belanja negara. 

“Penurunan signifikan dalam konsumsi pemerintah sebesar 39,89 persen menjadi penyebab utama kontraksi. Ini mencerminkan pola musiman sekaligus tantangan struktural dalam realisasi belanja fiskal,” ujar Puji dalam berita resmi BPS, 5 Mei 2025.

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian menjadi penopang utama dengan kontribusi kuat, diikuti oleh jasa lainnya, jasa perusahaan, serta transportasi dan pergudangan yang juga mencatatkan pertumbuhan tinggi. 

Namun, sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi cukup dalam secara kuartalan, yakni 7,42 persen, seiring volatilitas harga komoditas global.

Sementara itu, dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh 6,78 persen yoy, menjadi motor pendorong di tengah lesunya konsumsi rumah tangga. 

Konsumsi domestik hanya tumbuh 4,89 persen, yang meskipun dominan secara struktur PDB (54,53 persen), dinilai belum cukup kuat menahan tekanan ekonomi eksternal dan internal.

Direktur Neraca Pengeluaran BPS Pipit Helly Sorayan, mencatat bahwa selain konsumsi pemerintah, hampir semua komponen pengeluaran mengalami tekanan. 

“Ekspor dan impor barang serta jasa masing-masing terkontraksi 6,11 persen dan 10,20 persen secara kuartalan. Ini memberikan sinyal perlambatan aktivitas ekonomi yang lebih luas,” jelasnya.

Secara spasial, Pulau Jawa masih menjadi kontributor utama dengan porsi 57,43 persen dan pertumbuhan 4,99 persen. Sulawesi bahkan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,40 persen. 

Namun, ketimpangan masih terlihat, terutama di wilayah timur Indonesia seperti Maluku dan Papua yang hanya tumbuh 1,69 persen.

Situasi triwulan I 2025 ini menjadi semacam "peringatan dini" bagi para pemangku kebijakan dan pelaku pasar. Meski angka tahunan masih dalam jalur positif, tren kuartalan menurun bisa menjadi indikasi tekanan yang lebih dalam apabila tidak segera diantisipasi.

Sejumlah ekonom menyoroti lemahnya daya beli masyarakat sebagai sinyal utama yang perlu diwaspadai. Bahkan momentum Ramadan dan Lebaran yang biasanya mendorong konsumsi, dinilai gagal memberikan efek maksimal. 

Jika konsumsi rumah tangga tidak segera digenjot, misalnya lewat insentif fiskal atau pengendalian inflasi, risiko perlambatan lebih tajam di kuartal II akan meningkat.

Prospek pertumbuhan pada triwulan berikutnya pun dipengaruhi oleh banyak faktor: realisasi belanja APBN, penguatan nilai tukar rupiah, pemulihan sektor ekspor di tengah perang dagang global, hingga efektivitas komunikasi kebijakan pemerintah pasca transisi kekuasaan. 

Di tengah tantangan ini, strategi koordinasi fiskal dan moneter menjadi krusial untuk menjaga ritme pertumbuhan tetap berada di jalur target pemerintah sebesar 5,2 persen.

“Beberapa indikator konsumsi dan ekspor masih menunjukkan resiliensi. Tapi sinyal-sinyal pelemahan tetap harus diwaspadai dengan serius,” kata Puji Agus menutup paparan BPS.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.