KABARBURSA.COM - Saham-saham sektor kesehatan mengalami penguatan 0,42 persen atau 5,95 poin ke level 1.431,08 pada penutupan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Rabu, 26 Juni 2024. Sektor ini menyentuh level terendah di 1.419,4 dan level tertinggi di 1.438,64 sepanjang perdagangan harian.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDXHealth mencatatkan volume perdagangan mencapai 280.159,163 lembar saham, sedangkan nilainya menyentuh Rp119.773.480.420. Sementara frekuensinya sebanyak 38.719 serta memiliki kapitalisasi pasar sebesar 278.812.
Apalagi, sektor kesehatan masuk dalam 5 sektor yang menjadi fokus Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024 dengan total Rp186,4 triliun. Hasilnya, terjadi peningkatan 8,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp187,5 triliun.
Adapun hal tersebut diprediksi memberi pengaruh positif terhadap kinerja emiten rumah sakit. Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo, mengatakan, emiten-emiten rumah sakit masih mampu mencetak kinerja positif atau membaik sepanjang 2023 lalu, lewat peningkatan pertumbuhan pendapatan dan laba. "Untuk tahun ini, emiten-emiten di sektor jasa kesehatan tersebut diperkirakan masih mampu bertumbuh positif, namun tidak sebesar akselerasi tahun lalu," kata Praska.
Adapun sentimen yang diprediksi bisa mendorong kinerja emiten rumah sakit yakni adanya permintaan kebutuhan rawat inap beserta keperluan lainnya, seperti poliklinik, laboratorium, hingga pemeriksaan medis. "Di samping itu, kemampuan emiten menjaga margin juga dapat mendorong perbaikan laba," tuturnya.
SILO
Contohnya PT Siloam International Hospital Tbk (SILO), yang terkenal dengan Siloam Hospitals, berhasil mencatatkan kinerja positif sepanjang 2023. Pendapatan dan laba bersih tumbuh signifikan tahun lalu.
SILO membukukan laba bersih Rp1,21 triliun, melonjak 73,91 persen yoy dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp696,49 miliar. Sementara pendapatan bersih SILO mencapai Rp11,19 triliun di tahun lalu, naik sebanyak 17,57 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 9,51 triliun.
Dari laba bersih dan marjin labanya pada 2023, SILO berhasil meraup masing-masing Rp1,21 triliun dan Rp10,82 miliar. Pertumbuhannya pada 2023 dibandingkan 2022 sebesar 73,91 persen dan 47,81 persen.
Sementara dari valuasi saham SILO, jika dilihat dari angka rasio Price to Earning Ratio alias PER atau PE Ratio saat ini mencapai 644,22 kali. Untuk Price to book value (PBV) emiten ini mencapai sebanyak 4,46 kali. Gampangnya, saham SILO tercatat telah naik nyaris 20 persen tahun ini dan dalam setahun menguat 58 persen.
Sebagai informasi, SILO dimiliki oleh Megapratama Karya Persada sebagai pengendali dengan kepemilikan saham 49,57 persen. Selanjutnya ada Prime Health Company Limited yang menggenggam 26,18 persen saham SILO, dengan sisanya dimiliki oleh investor retail dan institusi dengan kepemilikan masing-masing kurang dari 5 persen.
MIKA
Yang kedua adalah PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk atau MIKA, emiten pengelola rumah sakit, berhasil membukukan pendapatan atau revenue sebesar Rp4,26 triliun. Berdasarkan BEI, pendapatan bersih MIKA meningkat 5,33 persen yoy menjadi Rp4,26 triliun, dibandingkan Rp4,04 triliun pada 2022.
Kenaikan pendapatan membuat beban pokok pendapatan MIKA meningkat 8,32 persen, dari sebelumnya Rp1,97 triliun di tahun 2022, menjadi Rp2,13 triliun pada tahun lalu.
Pada saat yang sama, MIKA berhasil mencatatkan kenaikan laba bruto sebesar 2,45 persen yoy menjadi Rp2,12 triliun. Di sisi lain, beban usaha MIKA meningkat 20,12 persen menjadi Rp952,27 miliar. Pada tahun sebelumnya beban usaha MIKA tercatat Rp792,72 miliar.
Hingga akhir tahun 2023, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk MIKA melemah ke angka Rp916,13 miliar atau lebih rendah 8,87 persen dibandingkan Rp1 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari sisi valuasi saham, rasio Price to Earning Ratio (PER) atau current PE Ratio MIKA saat ini mencapai 37,35 kali, sedangkan Price to Book Value (PBV) mencapai 7,06 kali.
Belum lama ini juga MIKA telah mendirikan Jakarta Ear and Hearing Center pertama di Indonesia dan memberikan pelayanan one stop service. MIKA menawarkan skrining, pengobatan, operasi, hingga rehabilitasi dilakukan di satu tempat.
Head of Investor Relations Mitra Keluarga Aditya Widjaja mengatakan MIKA akan terus melanjutkan sejumlah strategi guna mendongkrak kinerja hingga akhir tahun 2024.
Ia menyebutkan salah satunya rencana pada tahun 2024 MIKA akan melakukan ground breaking untuk rumah sakit baru. MIKA akan menjalankan proyek ground breaking tahun 2024 ini untuk pembukaan di tahun 2025 mendatang. "Satu rumah sakit sudah kami lakukan di Januari 2024 lalu, sisa dua rumah sakit akan menyusul di kuartal II dan kuartal III 2024 ini," jelas Aditya.
Aditya menyebutkan MIKA telah menyiapkan anggaran belanja modal untuk ekspansi rumah sakit baru sebesar Rp1 triliun. Selain itu, capital expenditure (capex) yang disiapkan nantinya juga akan digunakan untuk pembelian lat-alat edis dan renovasi existing.
Pada tahun 2024 ini MIKA akan lebih fokus untuk penambahan layanan unggulan baru seperti Hearing & otology center di Mitra Keluarga Kelapa Gading serta Oncology Center yang lebih komprehensif dan terkini di Bekasi Timur.
Aditya optimistis pertumbuhan tahun ini akan didorong dari pertumbuhan pasien dari rumah sakit baru serta penambahan kapasitas tempat tidur. "Selain itu juga dari sisi peningkatan intensitas layanan seperti pusat unggulan baru dan penambahan subspesialis," ucapnya.
HEAL
Sementara itu, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), mampu mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2023. Hal itu tercermin pada merekahnya laba dan pendapatan HEAL di tahun 2023.
HEAL mencatat laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk mencapai Rp437,3 miliar sepanjang tahun 2023. Laba bersih HEAL tumbuh 46,6 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya atau yoy sebesar Rp298,5 miliar.
Begitu pula dengan pendapatan HEAL yang sepanjang tahun 2023 juga tumbuh signifikan. Pada tahun 2023, pendapatan bersih HEAL tercatat sebesar Rp5,7 triliun. Angka tersebut tumbuh sebesar 16,3 persen dari tahun 2022 yaitu Rp4,9 triliun.
Lebih lanjut untuk beban pokok penjualan dan pendapatan sepanjang tahun 2023 tercatat sebesar Rp3,7 triliun atau tumbuh 19,3 persen dari tahun sebelumnya. Dengan demikian HEAL menghasilkan laba bruto di tahun 2023 sebesar Rp2,07 triliun.
Selanjutnya untuk jumlah aset HEAL sepanjang tahun 2023 juga mengalami pertumbuhan hingga 17,3 persen. Pada tahun 2023 HEAL mencatat jumlah aset sebesar Rp8,8 triliun. Sedangkan untuk jumlah liabilitas tercacat berada di angka Rp3,6 triliun. Berikutnya jumlah ekuitas sepanjang tahun 2023 sebesar Rp5,1 triliun atau tumbuh 10,8 persen.
Dari sisi valuasi saham, rasio Price to Earning Ratio (PER) HEAL saat ini berada pada 27,66 kali, sementara Price to Book Value (PBV) mencapai 5,07 kali.
HEAL juga akan menambah 1.100 tempat tidur pada 2024, yang terdiri atas 400 tempat tidur dari rumah sakit baru dan 700 tempat tidur dari fasilitas yang sudah ada. Sepanjang kuartal I 2024, perseroan telah menambah 745 tempat tidur, seiring tingginya tingkat okupansi tempat tidur (BOR) sebesar 78 persen pada kuartal I 2024. Sebagai informasi, penambahan tempat tidur dilakukan jika BOR mencapai 70-80 persen selama tiga bulan berturut-turut.
Tahun ini, HEAL bakal membuka empat rumah sakit baru, yaitu di Pasuruan pada kuartal II-2024, Madiun pada kuartal III 2024, Ibu Kota Nusantara (IKN) pada kuartal III-2024, dan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 pada kuartal IV-2024. Dengan begitu, jumlah rumah sakit yang dioperasikan perseroan hingga akhir 2024 bakal menjadi 52.
SRAJ
Emiten rumah sakit PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) berhasil rebound pada kuartal I 2024. Melansir laporan keuangan pada laman BEI SRAJ mencatat perolehan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk Rp 4,74 miliar pada kuartal I 2024. SRAJ berhasil rebound pada kuartal I 2024 ini karena pada kuartal I 2023 SRAJ mencatatkan rugi hingga Rp 13,85 miliar.
Pembalikan bottom line pemilik Mayapada Hospital ini disokong oleh kenaikan pendapatan. SRAJ meraup pendapatan Rp746,1 miliar di kuartal I 2024. Pendapatan Sejahteraraya meningkat 27,4 persen secara tahunan. Sebelumnya ada kuartal I tahun 2023 SRAJ mengantongi pendapatan sebesar Rp541,6 miliar.
Sejalan dengan hal itu, SRAJ juga mencatat peningkatan pada beban pokok menjadi Rp539,4 miliar. Angka tersebut meningkat 26,7 persen jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023 yaitu Rp394,9 miliar. Laba bruto SRAJ pada kuartal I 2024 lalu mencapai Rp206,6 miliar atau meningkat 40,86 persen secara tahunan.
Pada akhir kuartal pertama 2024, jumlah aset SRAJ naik tipis 0,17 persen secara year to date menjadi Rp5,61 triliun. Begitu juga dengan jumlah liabilitas yang naik tipis menjadi Rp3,75 triliun. Lalu jumlah ekuitas SRAJ pada kuartal I 2024 ini berada di angka Rp5,61 atau naik 0,17 persen ketimbang posisi akhir 2023.
Dalam hal valuasi saham, rasio Price to Earning Ratio (PER) SRAJ saat ini adalah 1,439 kali, sedangkan Price to Book Value (PBV) emiten ini mencapai 14,70 kali.
Lebih jauh, SRAJ yang merupakan pengelola Mayapada Hospital, telah memperoleh fasilitas kredit dari PT KB Bank Tbk (BBKP) senilai Rp718,5 miliar. Corporate Secretary SRAJ Arie Farisandi, menyampaikan bahwa pada 20 Juni 2024, perusahaan telah menandatangani perjanjian kredit dengan beberapa tujuan penting.
Pertama, SRAJ memperoleh pinjaman sebesar Rp250 miliar sebagai take over loan dari PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR). Kedua, pinjaman senilai Rp100 miliar dialokasikan untuk pembangunan RS Mayapada Nusantara di IKN (Ibu Kota Nusantara). Ketiga, perusahaan mengamankan pinjaman Rp319 miliar untuk pembangunan dan pembelian peralatan medis di RS Mayapada Jakarta Timur. Keempat, SRAJ memperoleh tambahan pinjaman sebesar Rp50 miliar yang ditujukan untuk pembelian alat kesehatan lainnya.
Sebagai pengingat saja, SRAJ telah melaksanakan peletakan batu pertama (groundbreaking) RS Mayapada di IKN pada bulan November 2023, yang dihadiri langsung oleh Presiden Jokowi. Prosesi ini menandai RS Mayapada sebagai rumah sakit kedua yang melakukan groundbreaking di IKN, setelah RS Abdi Waluyo. Investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai Rp500 miliar.
PRAY
PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk atau Primaya Group merupakan emiten yang menaungi Primaya Hospital. Ini berhasil mencatat kinerja positif sepanjang 2023 dengan pertumbuhan signifikan pada pendapatan dan laba bersih.
PRAY mencatat laba bersih sebesar Rp216,97 miliar, meningkat 247,14 persen dari Rp696,49 miliar pada tahun sebelumnya. Pendapatan bersih PRAY mencapai Rp1,84 triliun pada tahun lalu, meningkat 20,79 persen dibandingkan dengan Rp1,52 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada tahun 2023, PRAY mencapai laba bersih dan marjin laba masing-masing sebesar Rp62,50 miliar dan Rp4,10 miliar, namun ini mengalami penurunan. Penurunan laba bersih ini mencapai 80,82 persen persen dan marjin laba tumbuh 77,03 persen dibandingkan tahun 2022.
Dalam hal valuasi saham, rasio Price to Earning Ratio (PER) PRAY saat ini mencapai 26,06 kali, sedangkan Price to Book Value (PBV) emiten ini mencapai 2,93 kali. (*)