KABARBURSA.COM - PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG), emiten di bidang budidaya tambak udang, telah menggunakan seluruh dana hasil penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp46,3 miliar per 30 Juni 2024.
Menurut Direktur Utama UDNG, Vincent Lukito, dana IPO tersebut dimanfaatkan untuk modal kerja dan penyertaan modal kepada anak perusahaan.
"Per 31 Desember 2023, dana IPO yang digunakan untuk modal kerja mencapai Rp2,63 miliar. Sedangkan per 30 Juni 2024, dana modal kerja yang digunakan sebesar Rp3,69 miliar," jelas Vincent dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin, 8 Juli 2024.
Lebih lanjut, Vincent mengungkapkan bahwa UDNG juga telah menyertakan modal kepada anak perusahaan PT Marina Bahari Sentosa sebesar Rp40 miliar.
Menyusul setoran modal itu, perseroan kemudian memiliki 40.049.999 helai alias 40,04 juta juta saham MBS atau setara dengan porsi kepemilikan 99,99 persen dari seluruh saham MBS.
"Dengan demikian, UDNG telah menggunakan seluruh dana IPO sebesar Rp46,3 miliar," tegas Vincent.
IPO UDNG
Sebagai informasi, UDNG resmi menggelar IPO pada tanggal 31 Oktober 2023 dengan melepas sebanyak 500 juta saham atau setara dengan 28,57 persen dengan harga perdana saham di level Rp100 per saham, dan meraih dana IPO sebesar Rp50 miliar.
Vincent, dalam optimismenya pada pengembangan usaha ke depan, menyampaikan UDNG memiliki pengalaman budidaya udang khususnya di kawasan Bangka Belitung, serta didukung sektor yang masih terus bertumbuh.
Dengan menggunakan teknologi terkini, Agro Bahari mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam proses budidaya. "Hal ini memungkinkan untuk mengelola tambak intensif dan super-intensif dengan jumlah kolam yang terus bertambah, dari 6 kolam pada awal berdirinya hingga saat ini sudah 14 kolam," kata Vincent.
Dalam IPO tersebut, Agro Bahari juga menerbitkan sebanyak-banyaknya 400 juta Waran Seri I atau sebesar 32 persen dari total jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh pada saat pernyataan pendaftaran IPO.
Waran ini diberikan kepada setiap pemegang saham baru secara cuma-cuma, dengan ketentuan setiap pemegang 5 saham Baru akan memperoleh 4 Waran Seri I. Setiap 1 Waran Seri I memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru UDNG yang dikeluarkan dalam portepel.
Harga pelaksanaan Waran seri I sebesar Rp105 per lembar. Sehingga, total hasil pelaksanaan Waran Seri I adalah sebanyak-banyaknya Rp 42 miliar.
UDNG Gandeng JALA
Sebelumnya, demi memajukan sektor akuakultur dan meningkatkan kualitas panen UDNG mengumumkan kolaborasi dengan PT JALA Akuakultur Lestari Alamku (JALA). Inisiatif ini dirancang untuk memanfaatkan kekuatan teknologi internet of things (IoT) terdepan dalam mengoptimalkan produksi tambak udang dan menerapkan inovasi baru dalam sektor akuakultur.
JALA dipilih oleh UDNG sebagai mitra yang akan menyediakan layanan aplikasi manajemen budidaya udang dan teknologi terkini untuk mengelola parameter kualitas air. Penerapan teknologi ini akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi tambak udang dan memungkinkan perusahaan untuk memantau kualitas air tambak secara detail sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih tepat untuk tambaknya.
UDNG akan memanfaatkan produk Water Quality Measurement Device (Baruno) dan aplikasi manajemen budidaya udang dari JALA. Dengan Baruno, UDNG akan mengoptimalkan operasional budidayanya melalui pemantauan parameter kualitas air yaitu suhu, pH, salinitas, dan oksigen terlarut, sehingga memungkinkan respons yang lebih cepat terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Teknologi aplikasi manajemen budidaya JALA mendukung pencatatan dan pemantauan parameter budidaya secara efisien, memfasilitasi penyesuaian pola pemberian pakan, optimalisasi kualitas air, dan pemanfaatan analisis data untuk prediksi dan pencegahan potensi penyakit, sehingga secara signifikan mengurangi risiko wabah penyakit dalam budidaya udang.
"Kami sangat bersemangat dengan potensi yang ditawarkan oleh teknologi terkini dari Perusahaan Teknologi IoT yaitu JALA. Kolaborasi ini tentunya membantu kami meningkatkan produksi dengan praktik budidaya secara berkelanjutan sekaligus menjaga kualitas lingkungan tambak udang kami," tutur Vincent.
Di samping itu, Liris Maduningtyas, CEO JALA mengaku bangga dapat berkontribusi dalam industri akuakultur melalui solusi IoT. Ini mencakup aplikasi manajemen budidaya udang dan produk Baruno. "Dengan kombinasi solusi ini, kami bertujuan untuk membantu perusahaan budidaya tambak udang memahami kondisi budidayanya dengan lebih baik dan memantau kualitas air dengan lebih akurat, untuk mencapai budidaya yang lebih produktif, ramah lingkungan, dan efisien,” jelas Liris.
Kedua perusahaan berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi dan memperluas kerja sama mereka guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan dalam industri akuakultur. (*)