KABARBURSA.COM - Venteny Fortuna International Tbk (VTNY) telah mengungkapkan rencana kerja perusahaan dalam lima tahun ke depan.
Chief Operating Officer (COO) Venteny Group, Damar Raditya menyampaikan dalam satu hingga dua tahun ke depan perseroan bakal fokus di Indonesia.
Pasalnya, ia mengaku jika Indonesia memiliki pasar yang sangat potensial di Asia Tenggara, terutama dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
"Karena kami melihat banyak sekali potensial UMKM terutama di bagian timur makannya kami ingin meningkatkan eksposur kami," ujar Damar dalam agenda Public Expose Live 2024, Senin, 26 Agustus 2024.
Dalam mendukung kinerja perusahaan itu, Damar menuturkan pihaknya akan melakukan kolaborasi dengan stakeholder seperti perbankan dan asosiasi.
Hal tersebut dilakukan, kata Damar, supaya nilai ataupun impact positif yang dimiliki Venteny bisa ditularkan kepada seluruh masyarakat dan pelaku UMKM di Indonesia.
Dilanjutkan Damar, Venteny juga berencana melakukan ekspansi di kawasan Asia Tenggara. Pasalnya, dia melihat jika belum ada perusahaan kompetitor yang bergerak di bidang yang sama seperti Venteny.
"Sehingga pasarnya sangat besar terutama di Thailand dan Vietnam," ungkapnya.
Di sisi lain, Damar juga memandang potensi pasar dan perkembangan bisnis dengan adanya pemerintahan baru mendatang, tidak mengubah fakta bahwa potensi UMKM di Indonesia masih sangat besar.
"Kami masih sangat positif melihat potensi perkembangan kami dan UMKM dan kami mau berjalan selaras dengan pemerintah Indonesia supaya Indonesia emas 2045 bisa terwujud dan kami bisa menjadi salah satu suporter utama untuk mengembangkan UMKM dan juga sumber daya manusianya," ungkapnya.
UMKM Berkontribusi pada 61 Persen PDB
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kontribusi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto (PBB) mencapai 61 persen.
Hal tersebut diungkapkan Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga. Dia mengatakan sektor UMKM memberikan kontribusi sebesar Rp8.573 triliun.
“Sektor UMKM telah memberikan kontribusi sebesar Rp8.573 triliun atau setara 61 persen dari pendapatan domestik bruto dan menyerap tenaga kerja sebesar 97 persen dari total penyerapan tenaga kerja,” ujar Jerry dikutip, Kamis 27 Juni 2024.
Jerry menyebut, pengembangan sektor UMKM tidak lepas dari Keterlibatan aktif organisasi kemasyarakatan. Hal ini merupakan langkah penting untuk membangkitkan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dia menuturkan, pihaknya memiliki program terkait peningkatan kualitas produk dan promosi UMKM. Pembinaan bagi UMKM bertujuan meningkatkan kualitas produk, pengembangan jenama (branding), dan sertifikasi halal.
” Melalui program kemitraan UMKM dengan ritel modern dan lokapasar (marketplace), produk- produk dalam negeri dapat tersedia di pasaran. Dengan demikian, produk UMKM dapat dijangkau dan diminati oleh konsumen dalam negeri,” jelasnya.
Jerry menambahkan, Presiden Joko Widodo menargetkan 30 juta pelaku UMKM untuk Go-Digital pada 2024 setelah melihat besarnya kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional.
Adanya digitalisasi ekonomi dan keuangan telah menggeser preferensi masyarakat ke arah permintaan layanan keuangan yang cepat, murah, mudah, aman, dan andal.
Selain itu, UMKM juga diklaim mampu berkontribusi dengan menyerap 96 persen tenaga kerja di Indonesia.
Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menegaskan, UMKM harus memanfaatkan kemitraan demi pengembangan bisnis mereka.
Menurut Zulkifli Hasan, sinergi antarpihak sangat dibutuhkan untuk memperkuat empat pilar peningkatan daya saing UMKM.
Adapun empat pilar yang dimaksud adalah inovasi UMKM, akses kemitraan, akses digitalisasi, dan akses pembiayaan.
“UMKM berkontribusi terhadap lebih dari 96 persen penyerapan tenaga kerja, dan lebih dari 60 persen pemasukan negara. Oleh karena itu, UMKM harus diperhatikan agar semakin berkembang,” ujar Zulkifli Hasan dalam keterangannya yang dikutip pada hari Senin, 5 Agustus 2024.
Menteri yang akrab disapa dengan panggilan Zulhas ini pun menguraikan urgensi kerja sama antarsektor. Ia mencontohkan dengan hubungan kerja sama retail modern dengan lembaga keuangan sebagai pemberi modal.
Selain itu, optimalisasi sektor lain, seperti pariwisata, turut berimbas pada daya beli terhadap produk UMKM.
“Jika UMKM hendak maju, harus mulai melakukan pemasaran digital dan tak berhenti berinovasi. Misalnya, dalam hal variasi produk dan desain kemasan,” ujar Zulkifli.
Ia juga mengatakan, pendirian sentra atau galeri UMKM juga menjadi salah satu langkah strategis untuk promosi UMKM, yaitu sebagai saluran agar masyarakat dan wisatawan semakin mengenal kualitas dan variasi produk lokal setempat.
“Untuk mewujudkannya, perlu dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, tokoh masyarakat, serta para pemuda,” kata Mendag Zulkifli.
Lanjutnya, diharapkan juga, semakin banyak kolaborasi yang terjalin untuk program yang melibatkan UMKM, baik dengan pihak perbankan, retail modern, serta dinas perdagangan dan perindustrian setempat. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.