Logo
>

IHSG Sesi I Terjungkal Safe Haven, Bursa Asia Merah

Lonjakan harga emas ke rekor baru dan ancaman tarif Donald Trump mengguncang sentimen Asia, sementara tekanan sektoral dan rotasi saham LQ45 membentuk arah IHSG di sesi pertama perdagangan.

Ditulis oleh Yunila Wati
IHSG Sesi I Terjungkal Safe Haven, Bursa Asia Merah
IHSG di sesi I terseret isu global dan investor yang mulai beralih ke aset safe haven. Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.

KABARBURSA.COM - Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada ujung sesi I perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, sangat tertekan. Indeks turun 113 poin atau setara -1,24 persen dan saat ini berada di level 9.021. Hal serupa terjadi pada bursa Asia yang memerah, terseret permintaan tinggi aset safe haven.

Pelemahan ini terjadi dalam kondisi likuiditas yang relatif tebal, dengan volume transaksi mencapai 387,2 juta lot saham dan nilai transaksi sebesar Rp20,90 triliun. Kombinasi antara koreksi indeks yang cukup dalam dan nilai transaksi yang besar mengindikasikan bahwa tekanan jual berlangsung secara luas. Hal ini terjadi bukan semata akibat kurangnya minat beli, melainkan adanya pergeseran posisi pelaku pasar yang aktif.

Di dalam konstituen LQ45, pergerakan saham memperlihatkan fragmentasi yang tajam. Di satu sisi, sejumlah saham mencatatkan kenaikan, seperti DSSA, MDKA, ANTM, EMTK, INCO, CPIN, dan TLKM. Namun di sisi lain, tekanan jual terkonsentrasi pada saham-saham besar seperti UNTR, ASII, CTRA, BUMI, ADMR, GOTO, dan AKRA. 

Dari perspektif sektoral, mayoritas indeks sektor berada di zona merah. Satu-satunya sektor yang masih mampu bertahan adalah basic industry, yang naik 0,39 persen. Penguatan sektor ini ditopang oleh CPIN yang naik 1,13 persen, IMPC yang menguat 0,57 persen, dan AMRT yang naik 0,52 persen. 

Sedangkan di sektor industri, tekanan sangat signifikan. Sektor ini turun 4,77 persen karena tertekan saham-saham berkapitalisasi besar seperti UNTR yang anjlok 14,93 persen dan ASII yang turun 11,34 persen. 

Saham-saham lain di sektor ini seperti GMFI, PTPP, ADHI, dan SMSM juga ikut melemah. Besarnya koreksi di sektor industri berkontribusi signifikan terhadap pelemahan indeks secara keseluruhan, mengingat bobot sektor ini dalam IHSG.

Pasar Asia Letoi

Dari sisi global, tekanan terhadap pasar Asia sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Harga emas melonjak ke rekor tertinggi sepanjang sejarah, dengan emas spot tercatat naik lebih dari 1 persen ke level US$4.813 per ons. 

Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa. Ancaman tersebut tidak hanya mencakup tarif 10 persen mulai 1 Februari yang berpotensi naik menjadi 25 persen pada 1 Juni, tetapi juga wacana tarif hingga 200 persen terhadap produk tertentu dari Prancis, termasuk anggur dan sampanye. 

Rangkaian pernyataan ini memperbesar ketidakpastian perdagangan global dan mendorong investor untuk mencari aset yang dianggap lebih aman.

Respons pasar Asia terhadap sentimen ini cenderung negatif, meskipun dengan intensitas yang berbeda-beda. Nikkei 225 Jepang turun 0,53 persen, sementara Topix melemah lebih dalam sebesar 1,07 persen. 

Di China, indeks justru menunjukkan ketahanan relatif, dengan Shanghai Composite naik 0,16 persen, Shenzhen Component menguat 0,76 persen, dan CSI300 naik 0,32 persen. 

Hang Seng Hong Kong turun tipis 0,15 persen, Kospi Korea Selatan hampir stagnan dengan penurunan 0,01 persen, sementara Taiex Taiwan terkoreksi 1,50 persen. 

ASX200 Australia juga melemah 0,38 persen. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa respons pasar Asia tidak seragam, tetapi secara umum sentimen kehati-hatian masih dominan.

Yen Menguat Tipis, Rupiah Belum Bangkit

Pergerakan mata uang Asia turut mencerminkan sikap pasar yang defensif. Yen Jepang menguat tipis 0,02 persen ke level 158,12 per dolar AS, mengindikasikan permintaan terhadap mata uang safe haven. Dolar Singapura juga menguat 0,01 persen. 

Sebaliknya, sejumlah mata uang regional melemah, termasuk dolar Australia yang turun 0,04 persen, rupiah yang melemah 0,04 persen ke level 16.963 per dolar AS, rupee India yang tertekan 0,42 persen, yuan China yang turun 0,09 persen, ringgit Malaysia yang melemah 0,04 persen, serta baht Thailand yang turun 0,02 persen. 

Pola ini menunjukkan adanya tekanan terhadap mata uang negara berkembang di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Jika seluruh data ini dibaca secara berurutan, tekanan pada IHSG di sesi pertama hari ini berlangsung dalam konteks global yang sarat ketidakpastian, dengan lonjakan emas sebagai indikator utama pergeseran preferensi risiko investor. 

Pelemahan indeks domestik tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan koreksi di sebagian besar bursa Asia dan pelemahan sejumlah mata uang regional. Namun, adanya saham-saham yang masih mencatatkan kenaikan serta sektor yang mampu bertahan menunjukkan bahwa pasar tidak bergerak secara homogen. 

Aktivitas perdagangan yang tetap tinggi mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih aktif melakukan penyesuaian portofolio, alih-alih sepenuhnya keluar dari pasar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79